Selasa, 29 Desember 2015

Empat Dokter Spesialis Yang Menangani

LUTFHI ARYA FIRDAUS


LUTFHI ARYA FIRDAUS (11 bulan), terlahir pada tanggal 18 Januari 2015. Putra pertama pasangan Bapak Anton Sujarwo  dan Ibu Siti Aisyah ini dilihat secara sepintas memang seperti anak yang tak normal. Dengan BB yang hanya 5 KG, jelaslah bahwa perkembangannya tak normal. Lutfhi dan orang tuanya saat ini masih tinggal menumpang dirumah kakek dan neneknya, tepatnya di Dusun Pancuran 01/06, Desa Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Lutfhi memang mengalami masalah kesehatan sejak lahir. Terlahir dalam keadaan terlambat satu minggu dari jadwal kelahiran membuat bayi ini harus dilahirkan lewat proses dipacu, karena terlambat beberapa menit saja mungkin nyawa Lutfhi tak terselamatkan. Lahir di RS. PKU MUHAMMADIYAH WONOGIRI Lutfhi terlahir dalam keadaan tak bisa menangis untuk beberapa waktu karena terlanjur minum air ketuban ibunya. Untuk menyelamatkan nyawanya, Lutfhi segera dirawat di inkubator  dan dipasang beberapa alat bantu, baik alat bantu pernapasan ataupun alat bantu makanan. Selama 5 hari di inkubator Lutfhi menjalani perawatan dan fisiotherapi agar bisa menyusu tanpa alat bantu selang. Dinilai sudah sehat Lutfhi akhirnya diperbolehkan pulang.

Masalah mulai muncul saat Lutfhi baru berusia satu minggu. Awalnya mulai ditemukan bercak warna merah di telapak kaki seperti keloid. Tapi lama kelamaan tumbuh lagi dibeberapa tempat. Lutfhi sempat dibawa ke dokter dan dari penjelasan dokter waktu itu menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia bercak merah itu bakal hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata keadaan tak seperti itu adanya, semakin bertambah usia becak –bercak di kulit itu semakin banyak bahkan justru berbentuk benjolan seperti daging tumbuh. Bukan hanya itu saja, Lutfhi juga sering sakit, panas, batuk, pilek, tak ada hentinya. Usia 3 bulan Lutfhi dibawa ke salah satu Dokter specialis anak di Wonogiri bahkan sempat dirujuk untuk dirawat di RSUD WONOGIRI. Analisa sementara waktu itu Lutfhi mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru. Tak hanya itu saja Lutfhi dikhawatirkan menderita kanker kulit. Untuk memastikan kondisinya pihak RS menyarankan untuk melanjudkan pengobatan ke RS yang lebih lengkap tim dokter ahlinya, dalam hal ini RSD. Moewardi lah yang ditunjuk. Tapi karena ketiadaan biaya, keluarganya hanya pasrah. Untuk sekedar berobat di RSUD WONOGIRI saja keluarga harus menunggu punya uang dulu, terbayang dalam pikiran mereka  mereka berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan ke Solo.

Tak mendapat pengobatan selama kurang lebih 8 bulan sudah pasti membuat kondisi Lutfhi semakin buruk. Lemah, dan menderita gizi buruk. Lutfhi sebenarnya sudah memiliki BPJS, tapi  untuk mengangsur BPJS sebesar Rp.25.500,- saja mereka tak mampu. Tim SR mendapatkan informasi soal Lutfhi dari salah satu bidan desa dan petugas TKSK Selogiri. Benar saja, pada saat dilakukan survey kami mendapati kondisi Lutfhi sangat memprihatinkan. Lemah, kurus, tak ada senyum sama sekali diwajah mungilnya. Angsuran BPJS pun nunggak 5 bulan sampai membuat kartu tak bisa dipakai karena sempat dinonaktifkan. Kamipun segera mengurus pengaktivan kembali BPJS nya dengan melunasi semua tunggakan termasuk membayar premi bulan berikutnya.

Setelah semua berkas lengkap kami segera membawa Lutfhi berobat kembali ke RSUD WONOGIRI. Pengobatan pertama setelah sempat terhenti selama 8 bulan. Melihat kondisinya pihak RSUD WONOGIRI segera merujuk ke RSD.MOEWARDI SURAKARTA. Kami pun bergerak membawa Lutfhi ke RSD.MOEWARDI. Tak berbeda dengan RS sebelumnya, pihak RSD.MOEWARDI segera ambil tindakan cepat. Hari itu juga Lutfhi langsung  diminta menjalani rawat inap. Beberapa test langsung dilakukan karena Lutfhi dicurigai menderita beberapa penyakit. Beberapa dokter specialist juga ikut terlibat dalam penanganan Lutfhi. Mulai dokter anak, hematologi, paru, jantung, urologi dan syaraf ikut melakukan pemeriksaan. Diagnosa awal Lutfhi menderita hemangioma kapiler,infeksi paru-paru, kelainan jantung, microtestis, bahkan curiga ke arah microcepalus mengingat ukuran kepalanya yang kurang untuk anak seusianya. Test darah, USG, Rongent, EKG, bahkan CT Scan dijalani saat rawat inap selam 18 hari. Hasilnya Lutfhi hanya menderita hemangioma kapiler itupun tak begitu membahayakan dan kelainan jantung. Sementara untuk paru-paru dinyatakan tak ada masalah, masalah pernapsan yang sebenarnya justru disebabkan karena kelainan jantungnya. Mikrocepalus juga tak ditemukan karena dari hasil CT Scan tidak ditemukan kelainan hanya karena faktor kurangnya BB saja.  Akan tetapi ada kecurigaan yang cukup mencengangkan. Lutfhi dicurigai menderita kelainan kromosum yang memungkinkan dia mengidap satu diantara syndrom 9. Dan untuk mengetahui kepastian sakitnya Lutfhi disarankan menjalani test , hanya saja biaya test tak murah dan tak tercover BPJS. Bahkan test hanya bisa dilakukan di Jakarta. Sementara tanpa kepastian hasil test tim dokter tak bisa mengambil langkah pasti untuk pengobatan selanjutnya. Sementara ini  Lutfhi menjalani pengobatan rawat jalan dengan diberi obat jantung sambil tetap menjalani observasi dan evaluasi. Untuk msalah kelainan kromosum ini Lutfhi ditangani oleh dokter endokrin anak. Itu artinya saat ini Lutfhi ditangani 4 dokter spesialis, yaitu dokter specialis anak, jantung, hematologi dan endokrin anak.

Semoga saja setelah diketahui penyakit yang sebenarnya Lutfhi segera mendapatkan penanganan yang tepat. Sedekaholic ...Lutfhi membutuhkan uluran tangan kita untuk kesembuhannya. Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan  sangat kesulitan membiayai pengobatan Lutfhi. Biaya berobat ke Solo juga tidaklah sedikit. Apalagi biaya menjalani test ke Jakarta sudah pasti akan membutuhkan banyak memakan biaya, karena bagaimanapun mereka membutuhkan biaya untuk keseharian selama mereka di Jakarta. Belum lagi susu yang dikonsumsi Lutfhi pun khusus. Kedua orang tua Lutfhi terpaksa harus bekerja semua demi membiayai hidup, sementara Lutfhi diasuh neneknya di rumah. Belum lagi kakek Lutfhi saat ini juga sedang menderita stroke, mau tak mau beban orang tua Lutfhi pun jadi bertambah. Tak heran, untuk membayar premi BPJS per bulan pun mereka kesulitan.

Masa depan Lutfhi masih panjang, disaat anak seusianya sudah bisa belajar berjalan, dia hanya berbaring lemah karena kondisinya. Keterlambatan dalam tumbuh kembangnya karena dipengaruhi oleh sakitnya. Semoga denganpengobatan yang akan dijalaninya nanti Lutfhi mendapat kesembuhan dan bisa normal seperti anak seusianya.
Salam Tembus Langit....

Donasi Buat Lutfhi
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan

Kurir: 085329907666 (Nonis MS)

Kamis, 05 November 2015

Bayu Yulianto

BAYU, HOW ARE YOU ?

Bayu Yulianto, dia seorang pemuda berusia 20 tahun yang bertempat tinggal di Dusun Tempel, Desa Kayulaka, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Saat menangani kasusnya waktunya hampir bersamaan dengan Bu Tarni, hanya selang dua hari saja.

Informasi soal Bayu kami dapatkan dari salah seorang teman yang saat itu justru sedang merantau di Jakarta. Dan untuk memastikan kebenaran info itu kami segera melakukan survey. Info itu ternyata benar. Dia anak yatim piatu yang tinggal berdua saja dengan neneknya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Kondisinya juga sangat memprihatinkan. Tak bisa berjalan karena ada luka di bekas operasinya. Bayu mengalami kecelakaan motor sekitar tahun 2011 dan menjalani operasi pemasangan pen di paha sebelah kiri. Operasi dilakukan di salah satu RS swasta di Wonogiri. Tapi beberapa bulan kemudian ada masalah dengan kakinya. Terasa sakit dan mulai mengeluarkan darah disertai cairan nanah. Tim dokter sempat menyarankan dilakukan oprsi ulang. Tapi karena ketiadaan biaya operasi urung dilakukan. Waktu itu dia tak memiliki kartu jaminan kesehatan. Jadi semua biaya secara umum itupun atas biaya swadaya masyarakat sekitar. Jangankan untuk membiayai operasi, untuk makan sehari-hari saja mengandalkan belas kasihan tetangga. Secara bergantian warga sekitar memberi makanan pada Bayu  dan neneknya.

Kondisi yang seperti itulah yang membuat Bayu mengurungkan niatnya melakukan operasi lagi. Dia merawat lukanya sendiri di rumah, sesekali jika ada rejeki dibawa ke Puskesmas. Keadaan seperti itu berlangsung kurang lebih 1,5 tahun. Itu artinya selama itu luka mulai mengalami pembusukan, mengeluarkan darah dan nanah.

Seperti biasa kami segera bergerak cepat, membawa Bayu ke RS. Ortopedi Solo pada keesokan harinya. Di RS ini segera dilakukan rongent untuk melihat kondisi paha kirinya. Hasilnya diluar dugaan kami. Terbaca dengan jelas bahwa pen melengkung, bahkan skrub patah. Patahan skrub itu yang setengah tertancap di dalam tulang, setengahnya lagi terlepas menusuk ke dalam daging. Skrub yang tertinggal di dalam daging itulah yang menyebabkan infeksi sampai mengeluarkan darah dan nanah setiap harinya. Dokter segera ambil tindakan operasi. Dua hari kemudian operasi dilakukan. Operasi pertama untuk mengambil pen dan membersihkan tulang-tulang mati. Sementara dalam kondisi infeksi dalam paha seperti itu tak mungkin dipasang pen dalam lagi maka dokter memutuskan memasang pen luar. Maka opersi lanjutan adalah pemasangan pen luar.

Pasca opersi pemasangan pen luar sambil menunggu penyembuhan infeksi dipahanya, Bayu menjalani fisioterapi rutin di RSUD Wonogiri. Selain itu dia sendiri rajin melatih kakinya di rumah. Selama lebih dari 1,5 tahun tak bisa di gerakkan membuat Bayu harus berusaha keras melatih otot kakinya agar mau berfungsi kembali. Kesabaran dan kerja kerasnya membuhkan hasil. Setahun lebih kami mendampingi dia tak sedikitpun dia mengeluh atau kehilangan semangat untuk sembuh. Akhirnya pen luar bisa di lepas dan sekitar 2 bulan yang lalu dokter menyatakan sudah sembuh dan tak perlu melakukan pengobatan lagi.

Dan hari ini secara tak sengaja waktu kami move di RSUD Wonogiri kami bertemu dengan salah satu tetangga Bayu dan mengabarkan bahwa Bayu akan mulai bekerja. Dia bertekat akan bekerja untuk menghidupi keluarga dan merawat neneknya tanpa harus bergantung pada tetangga sekitar seperti dulu. Dia siap jadi tulang punggung nenek yang biarpun beliau sendiri sedang sakit tua tapi tetap sabar merawat Bayu dengan sisa-sisa kekuatannya.Mendengar kabar itu sungguh kami tak bisa menahan air mata karena terharu. Selamat berjuang Bayu, perjuangan hidup yang sesungguhnya sudah menantimu. Raih masa depanmu yang sempat tertunda karena sakitmu. Rawat dan temani nenek di sisa usianya. Kami bangga padamu. Tetap Semangiiiiit...Semangat Menembus Langiiiiit...!!! Buatlah nenekmu bangga...hanya beliau yang kamu punya saat ini, dan yakinlah orang tuamu di syurga pasti tersenyum bangga melihatmu.Keep fight...keep your spirit and...never give up.

Salam Tembus Langit....!!!

Sabtu, 31 Oktober 2015

Bu Tarni

KAKI TAK JADI DIAMPUTASI, KINI BERSUAMI LAGI


Ini kisah tentang Bu Tarni, salah satu pasien dampingan #SR WONOGIRI. Buatku kisahnya cukup menarik. Semua berawal sekitar awal tahun 2014 kami menerima laporan ada warga tak mampu sudah sakit selama bertahun-tahun. Kami segera crosschek dan ternyata benar. Namanya Bu Tarni, seorang janda miskin menderita infeksi kaki selama kurang lebih  9 tahun. Disebuah rumah mungil berdinding anyaman bambu yang sudah banyak lobangnya Bu Tarni tinggal bersama ibunya yang sudah renta. Sementara sakitnya bermula saat kecelakaan motor yang dialaminya sekitar tahun 2005. Luka yang dialaminya mengharuskan beliau untuk menjalani operasi pemasangan pen. Waktu itu tindakan operasi dilakukan di Klaten tempat beliau mengalami kecelakaan itu.

Beberapa hari setelah operasi beliau diperbolehkan pulang. Selang beberapa hari setelah pulang ada masalah dengan luka operasinya. Ada salah satu jahitan di kakinya yang terbuka. Harusnya segera di bawa kembali ke RS sekaligus chek up post op. Tapi ketiadaan biaya menjadi penyebabnya karena mereka sudah tak mampu lagi, apalagi biaya waktu menjalani operasi memakai biaya umum. Luka itu dirawatnya sendiri dengan obat medis sederhana dan berharap luka itu bisa sembuh tanpa harus perawatan dokter. 

Ternyata dugaannya salah. Luka itu bukannya semakin sembuh justru semakin parah dan melebar. Dengan sabar beliau merawat lukanya sendirian karena suaminya meninggal tak lama setelah kecelakaan itu. Semakin beratlah beban hidupnya, luka semakin parah sementara beliau masih harus membesarkan putra semata wayangnya. Dalam keadaan sakit beliau masih tetap bekerja serabutan. Tapi tetap saja semua tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan anaknya rela putus sekolah dan  memilih merantau untuk bekerja. Padahal anaknya pada waktu itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Semua demi membantu kehidupan keluarga.

Pada waktu kita temukan kondisinya sangat memprihatinkan. Luka dikaki sebelah kanan sudah membusuk, terbuka lebar, tulang dan pen terlihat jelas. Darah dan nanah tak selalu keluar. Bahkan untuk mencegah agar cairan itu mengalir, beliau menutupnya dengan tiga buah pembalut wanita. Kanan kiri luka banyak lobang yang mengeluarkan nanah dan darah. Dan untuk lobang-lobang kecil iti beliau menutup dengan kapas yang dipotong kecil-kecil setelah itu baru dibalut dengan perban. Rutinitas membersihkan luka itu sendiri membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam setiap hari selama 9 tahun. Kaki tak bisa ditekuk, kaku. Jangan tanya  lagi seperti apa baunya akibat infeksi luka itu. Bahkan ada salah seorang dokter yang menyarankan untuk di amputasi saja.

Yang lebih menyedihkan lagi keluarga justru menjauh,bahkan para tetangga  seolah jijik. Tak perlu membuang waktu lagi kami memutuskan segera bergerak. Kami memutuskan membawa ke RS. Ortopedi Surakarta. Melihat kondisi separah itu dokter pun tak buang-buang waktu untuk segera dilakukan operasi. Rencananya akan ada dua tahapan operasi. Pertama untuk pelepasan pen dan pembersihan kulit yang terinfeksi. Yang kedua adalah penutupan luka dengan metode penarikan kulit atau penutupan kulit diambilkan dari kulit organ lain. Alhamdulillah berarti tak perlu amputasi.

Dua hari kemudian operasi tahap pertama sukses dilakukan. Dan beberapa hari kemudian pasien diperbolehkan pulang. Tak mau ambil resiko, untuk mengantisipasi kesalahan terdahulu kami memutuskan mencari perawat yang bisa merawat luka post op. Tiap hari perawat itu mendatangi pasien untuk melakukan medikasi. Biaya medikasi dan kebutuhan nutrisi penunjang #SR yang tanggung. Dengan penuh kesabaran medikasi dilakukan selama lebih dari 9 bulan. Hasilnya pun cukup memuaskan. Terjadi granulasi sel baru yang sehat dan dengan sendirinya menutup luka itu. Artinya tak perlu ada operasi tahap kedua yang rencananya untuk menutup luka. Alhamdulillah pengobatan dinyatakan selesai.

Seperti yang sudah-sudah jika pasien sembuh kami akan menghilang dan fokus pada pasien yang baru. Pada suatu hari secara tak sengaja kami bertemu dengan salah satu tetangga terdekatnya. Ternyata mereka masih mengingat kami meskipun hampir setahun tak ketemu. Iseng –iseng aku tanya kabar Bu Tarni . Dan jawabanya sungguh di luar dugaan kami.

“ Bu Tarni sudah menikah lagi mbak setelah 9 tahun menjanda, sekarang tinggal bersama suaminya dan jadi petani. Sudah bisa tandur sama matun (menanam padi dan menyiangi rumput) di sawah.”
Subhanallah ...Allahuakabar... kaki yang dulunya hampir diamputasi, yang jangankan untuk masuk ke dalam lumpur, kondisinya saja dulu hampir mirip kaki yang terbenam dalam lumpur karena pembusukan. Kaki yang dulu tak bisa ditekuk, jalan hatus pakai kruk kini sudah normal kembali. Bu Tarni yang dulu pasrah karena keadaan, yang jangankan punya pendamping lagi, mau bergaul dengan tetangga saja minder karena kondisinya. Tapi sekarang beliau sudah bisa memulai hidup yang baru bersama suami barunya. Seorang lelaki sederhan tapi berhati kaya yang mau menerima segala kekurangan Bu Tarni.

Luar biasa...sungguh indah rencana Tuhan. Selamat buat Bu Tarni, inilah hadiah terindah dari Tuhan atas kesabaran dan keikhlasanmu selama ini. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menaungi keluarga barumu.  Tetap Semangiiiiitt yaaa Bu Tarni...Semangat menembus langiiiiiitt...
Eheeeeem penulisnya kesalip ceritanya...doain yaaa Bu penulis segera bisa menyusul dapat pendamping juga...he he he

Salam Tembus Langit...!!!!

Rabu, 28 Oktober 2015

IBU MISIYEM

TUMOR 45 KG BERHASIL DIANGKAT, SAYANG IBU MISIYEM TAK SELAMAT



Sejak awal kami diberi amanah mendampingi pengobatan Ibu Misiyem kami tahu bahwa tak akan mudah. Semua berawal sekitar dua tahun yang lalu. Ada seorang warga yang megatakan bahwa ada warga tak mampu perlu biaya pengobatan dan  minta bantuan pada  #SR. Tapi ternyata saat kita datangi Bu Misiyem belum mau di handle. Yaaa sudah kamipun tak bisa memaksa. Lalu setahun kemudian melalui perangkat setempat beliau coba dibujuk lagi, hasilnya juga sama nihilnya. Dan lagi-lagi kami tak bisa apa-apa lagi karena itu hak beliau.

Kemudian pada hari Minggu tanggal 18 Oktober kami sempat terkejut bahwa pasien mau dibawa berobat. Sempat ada kelegaan diperasaan kami saat mengetahui hal ini. Tapi kami mendadak terdiam sejenak dan tertegun melihat kondisinya yang sekarang. Lemah, kurus, perut semakin membesar, susah bernafas dan kedua kaki membengkak bahkan terluka. Sempat ada kekhawatiran dalam benak kami. Masih bisakah? Bisa ataupun tidak kami harus segera bergerak cepat.Bismillah niat membaikkan, begitulah niat kami.

Kondisi kritis, harus segera dilakukan penanganan tapi masih terbentur masalah jaminan kesehatan dan administrasi kependudukan. Kami pun tak membuang waktu melacak keberadaan jaminan kesehatan. Alhamdulillah dalam waktu satu setengah hari, kami dibantu beberapa pihak terkait bisa temukan dan semua administrasi lengkap.

23 Oktober 2015 kembali kami sempat dibuat lega dengan adanya pemberitahuan dari pihak RS bahwa akan segera dilakukan tindakan operasi pengangkatan tumor jam 11 siang. Pasien sudah siap bahkan sudah masuk di ruang persiapan operasi Instalansi Bedah Sentral. Tapi ternyata ada pasien yang lebih emergency masuk lewat IGD dengan kondisi lebih kritis dan sempat henti nafas dan harus masuk ke ruang ICU. Kebetulan hari itu semua ruang ICU penuh tinggal satu ruang yang awalnya khusus disediakan untuk Ibu Misiyem. Terpaksa operasi ditunda karena tak mau ambil resiko dengan tidak adanya ruang ICU. Akhirnya mau tak mau  kami harus menandatangani re scedule operasi. Sempat kami tanyakan resikonya jika dilakukan rescedule operasi, apakah membahayakan ataukah tidak. Jawaban tim dokter waktu itu insyaallah tidak terjadi apa-apa karena kalau dilihat dari riwayatnya dengan menahan sakit seperti itu selama  10 tahun lebih, toh sampai sekarang masih bisa bertahan. Ditambah lagi akan ada pengawasan dan pemantauan ketat dari tim dokter.

“ Insyaallah penyakitnya tak terlalu dikhawatirkan. Yang kami khawatirkan adalah pasca operasinya. Kondisi sudah sedemikian rupa, ada beberapa komplikasi. Ginjal ,lever, saluran buang air kecil, bahkan paru-paru dari hasil lab tak bisa terbaca. Kami tak tahu apakah semua tertutup asites ataukah tertutup tumornya. Melihat besarnya massa tumor kami berharap semoga tak terjadi pelengketan ke organ vital yang nantinya akan mempersulit proses operasinya. Untuk itulah kami tak berani ambil resiko jika ruang perawatan  pasca operasi tak tersedia. Dan kami butuh ruang khusus untuk perawatan pasca operasi dengan fasilitas terlengkap. Kami sudah siapkan ruang ICU VVIP RI 1 yang seharusnya hanya boleh untuk di tempati seorang presiden. Kami Tim Dokter sebenarnya dilema, jika  kami tak lakukan tindakan nanti kami dikira menelantarkan pasien. Tapi jika kami lakukan tindakan resikonya besar bahkan bisa beresiko ke arah kematian, karena ini high risk operation. Berdoa saja semoga semua lancar, yang pasti kami akan lakukan yang terbaik”, begitu penjelasan Dr. Bambang sebagai perwakilan dari tim dokter. Ya kami paham dokter, lakukan saja yang terbaik.
Akhirnya kepastian operasi kami dapatkan, info dari bagian PATOLOGI ANATOMI memberitahukan bahwa operasi positif dilakukan pada hari Selasa, 27 Oktober 2015 jadwal jam pertama jam 9 pagi. Dengan penanganan Tim Dokter khusus, dan ruang operasi dengan fasilitas terlengkapnya. Semua siap pasien masuk ke Ruang Instalansi Bedah Sentral pukul 08:30 WIB. Butuh bantuan lebih dari 10 orang hanya untuk sekedar memindahkan pasien dari bed ke bed operasi. Harus hati-hati dengan kondisi pasien yang lemah, memakai bantuan oksigen untuk pernapasan , 2 buah infus dan 1 kantong air seni. Kondisi kedua kaki yang sudah membengkak dan terluka juga membuat kami lebih berhati-hati lagi. Ya seperti itulah gambaran kondisi pasien. Yang bahkan hanya membantu merubah posisi miring dari kiri ke kanan atau sebaliknya ,atau sekedar membantunya duduk setelah lelah berbaring butuh bantuan 4 orang.

Operasi Bu Misiyem kali ini mengingatkan kami pada operasi Bu Kadiyem tahun lalu. Dengan kasus yang sama hanya saja Bu Kadiyem mengidap penyakit itu selama 9 tahun. Waktu itu dengan berat tumor 16 kg dan asites operasi berjalan cukup menegangkan karena operasi cukup rumit, melibatkan lebih dari 4 dokter bedah specialis. Bahkan sempat terjadi pelengketan di usus dan tumor hampir saja tak terangkat semuanya. Tim dokter juga sempat keluar masuk ruangan operasi sekedar membertahu kami tentang naik turunnya kondisi pasien. Alhamdulillah operasi dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itulah untuk operasi Bu Misiyem kali ini kami harus siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Kami sudah membayangkan operasi bakal berjalan lebih lama dan lebih rumit.  

Sungguh diluar dugaan kami, operasi berlangsung tanpa kendala berarti. Dokter hanya keluar ruang operasi satu kali itupun hanya untuk meminta kami mengambil darah di bank darah sebanyak 5 kantong. Operasi berlangsung kurang lebih selama 3 jam dan hasilnya bener-benar membuat kami tercengang. Tumor seberat 45 kg berhasil diangkat dan unruk mengangkat tumor memerlukan tenaga 4 orang. Hebatnya lagi tak ada pelengketan di organ vital. Kelegaan yang terkira waktu itu yang kami rasakan. Kinerja Tim dokter benar-benar luar biasa. Dan satu jam kemudian pasien dipindah ke ruang ICU. Harapan kami Bu Misiyem bisa sembuh seperti dua pasien kami sebelumnya, Bu Wakinem dan Bu Kadiyem yang menderita penyakit yang sama.

Ternyata kelegaan kami tak berlangsung lama. Pasca operasi kondisi pasien mengalami naik turun. 4 jam pasca operasi Tuhan punya kehendak lain. Pasien meninggal dunia. Dan inilah akhir dari perjuangan Bu Misiyem melawan penyakitnya. Kami terdiam, tertunduk lesu mendengar berita duka ini. Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik agar pasien mendapat pelayanan dan fasilitas terbaik pula, beliau mendapatkan itu. Tapi Tuhan memang lebih menyayangi umatnya. Karena seperti penjelasan dokter, kalaupun pasien bisa melewati masa kritisnya dan terangkat tumornya, pasien masih akan menderita komplikasi. Diperkirakan pasien mengalami masalah di beberapa organ vital, seperti kerusakan ginjal, paru-paru, saluran air seni. Kini Tuhan sudah mengangkat semua sakit yang sudah 10 tahun lebih diderita Bu Misiyem.

Begitu  mendengar kabar duka itu kami yang baru saja sampai setelah mengantar pasien lain pulang pasca kemoterapi langsung meluncur kembali ke RSD. Moewardi Solo untuk mengurus jenazah Bu Misiyem. Menjelang magrib dengan diselimuti perasaan duka yang mendalam kami antar jenazah beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir. Malam itu juga dengan sederhana beliau langsung dimakamkan. Tak ada taburan bunga mawar, hanya ada taburan bunga bougenvile sebagai penggantinya.

Kini Bu Misiyem sudah terbaring tenang, semoga khusnul khotimah, diterima semua amal perbuatannya selama ini,dan semoga sakit yang dideritanya selama ini bisa sebaga penghapus dosa-dosanya. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak terkait yang selama ini sudah membantu Bu Misiyem selama menjalani perawatan di RS. Banyak sekali yang sudah membantu hingga kami tak bisa menyebut satu persatu. Selamat jalan Ibu Misiyem, tenanglah disana, tersenyumlah sekarang karena sudah terbebas dari rasa sakitmu. Bahagialah disana dan semoga mendapat balasan surga dari Tuhan atas ketabahan, keikhlasan dan kesabaranmu selama sakit ini. Kami disini akan mendoakanmu. Sungguh engkau adalah seorang ibu yang kuat dan tangguh. Kami akan tetap mengenangmu.


Salam Tembus Langit....


Selasa, 20 Oktober 2015

TUMOR PERUT IBU MISIYEM

11 TAHUN MENGANDUNG  TUMOR


Ibu Misiyem (49 tahun) adalah seorang dhuafa yang saat ini terbaring lemah karena penyakit tumor di perutnya yang sudah beliu derita selama kurang lebih 11 tahun. Saat ini kondisinya sangatlah memprihatinkan. Dengan perut yang membesar, kaki bengkak, serta tubuh yang kurus kering disertai sesak nafas yang diderita akibat tekanan dari pembesaran perut. Jangankan untuk berjalan, untuk sekedar duduk berlama-lamapun beliau sudah tak kuat. Ibu Misiyem adalah warga dari Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, yang letak daerahnya berada di ujung tenggara berbatasan dengan Kabupaten Pacitan. Tepatnya di Dusun Kikis RT 02/ RW 10, Desa Gedawung. Bersama suaminya Pak Kisut beliau tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding bambu, beralas tanah. Keseharian Bu Misiyem hanya seorang ibu rumah tangga dan suaminya sebagai petani dengan pendapatan yang tak menentu dan pasti jauh dari kekurangan.

Kondisi keterbatasan ekonomi ditambah masih harus menghidupi keempat anaknya membuat Bu Misiyem tak mampu mengobati penyakitnya. Bu Misiyem mulai menderita penyakit ini setelah kelahiran anak terakhirnya sekitar tahun 2005. Saat itu beliau sempat berobat ke RSUD Wonogiri dan di minta menjalani operasi. Tapi lagi-lagi karena ketiadaan biaya beliau mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi. Itu artinya dari tahun 2005 hingga sekarang beliau menahan sakitnya. Jangankan untuk biaya berobat, untuk mencukupi kesehariannya saja mereka sudah kesulitan.

Sekitar dua tahun yang lalu ada seorang warga yang mencoba meminta bantuan pada Sedekah Rombongan. Tim pun sudah siap menghandle, tapi masalah lain muncul. Bu Misiyem menolak menjalani pengobatan dikarenakan faktor traumatik. Beliau takut bernasib sama seperti salah seorang tetangganya yang meninggal dunia pasca operasi. Anak- anak yang masih kecil adalah faktor penyebab lainnya. Tim Sedekah Rombongan pun tak bisa memaksa dan akhirnya hanya memberi bantuan tunai. Setahun yang lalu giliran pihak kecamatan melalui Ibu Camat kembali berusa membujuk agar mau di obatkan. Kali inipun gagal lagi, Bu Misiyem tetap tak mau menjalani pengobatan. Bertahannya Bu Misiyem untuk menolak berobat tak urung justru memperburuk kondisinya. Pengobatan alternatif yang ditempuhpun tak sedikitpun membawa perubahan bahkan memperparah sakitnya.

Akhirnya dalam ketidakberdayaannya Bu Misiyem akhirnya bersedia menjalani pengobatan disaat kondisinya sudah mengkhawatirkan. Tubuh kurusnya tak mampu menopang beban di perutnya. Tanpa membuang waktu Tim Sedekah Rombongan yang saat itu juga di bantu salah seorang pengusaha batik dari Sidoharjo segera membawa pasien ke Rumah Sakit. Awalnya pasien dibawa ke Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo. Tapi ternyata Rumah Sakit Amal Sehat tidak mampu menangani dan merujuk pasien ke RSD. Moewardi Solo. Hari itu juga Minggu tanggal 18 Oktober 2015 pasien di bawa ke RSD. Moewardi lewat jalur IGD. Pasien segera mendapat penanganan dan saat ini menjalani rawat inap untu mendapatkan perawatan.

Sekarang Bu Misiyem dalam penanganan tim dokter di RSD.Moewardi Solo. Ini bukanlah kasus yang mudah mengingat besarnya tumor di perut Bu Misiyem. Sementara Tim Sedekah Rombongan di bantu perangkat setempat terus mengupayakan agar Bu Misiyem mendapatkan jaminan kesehatan agar segera bisa di lakukan tindakan. Sahabat mohon doanya untuk kelancaran penanganan Bu Misiyem, dimudahkan dalam mengurus segala sesuatunya.

Sungguh ujian yang tak ringan untuk Ibu Misiyem dengan menahan sakit selama sepuluh tahun lebih. Bisa kita bayangkan seperti apa penderitaan Ibu Misiyem selama ini. Saat ini dalam kepasrahanya beliau mengharap uluran tangan kita untuk membantunya sembuh. Ingin sehat seperti sebelum sakit itu datang. Ingin perutnya kembali rata dan bisa beraktifitas kembali secara normal. Ingin bisa merawat dan membesarkan anak-anaknya. Ingin bisa menghirup udara tanpa sesak didadanya dan bergerak dengan leluasa.

Sahabatku mari bergerak bersama tanpa harus saling menyalahkan atas kejadian yang menimpa Ibu Misiyem. Justru sekarang kita akan merasa salah saat tahu peristiwa ini tapi kita diam saja. Buka mata hati ,tumbuhkan kepekaan dan kepedulian kita. Bantu beliau mendapat kesembuhan. Sisihkan rejeki untuk membantu biaya pengobatan beliau. Banggalah kalian yang sudah dipilih Tuhan menjadi perantara menyampaikan  pertolongannya. Sedikit uluranmu bernilai besar untuk beliau. Bergerak bersama, sembuhkan, membaikkan. Isyaallah tembus langit dan biarkan “Tangan Tuhan” ikut bekerja.Tetap Semangiiiiit...Semangat Menembus Langiiiit...!!!!


Donasi Buat Ibu Misiyem
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan
Kurir: 085329907666 (Nonis MS)



Selasa, 15 September 2015

BERBAGI SESAMA TAK HARUS MENUNGGU KAYA

Mungkin ada sebagian orang yang berfikiran bahwa berbagi baru bisa dilakukan jika sudah mampu dalam hal materi. Padahal sebenarnya berbagi tidak harus dalam materi. Bisa dalam bentuk tenaga, perhatian, kepedulian bahkan memberikan waktu kitapun bisa dikatakan berbagi. Ketahuilah kebahagian kita itu tak akan habis dengan berbagi, tapi saat kita berbagi justru kebahagiaan kita akan bertambah.Berbagi jangan hanya pada orang-orang yang kita cintai guys tapi berbagilah dengan orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang suka berbagi akan berfikir bagaimana cara agar tetap bisa berbagi dan berbagi lagi. Dalam prinsip mereka kekayaan yang sesungguhnya bukanlah berapa banyak harta yang sudah mereka miliki tapi berapa banyak mereka bisa memberi untuk berbagi. Mereka berbagi bukan karena sudah kaya, tapi sebenarnya mereka merasa kaya karena rajin berbagi. Wuiiiihh keren ga tuuuhh? Keajaiban berbagi sesama itu berlaku bagi siapa saja, baik bagi orang yang beragama, agama apapun, maupun yang tak beragama sekalipun. 

Seperti kita tahu guys, dalam agama Islam berbagi itu sering kita sebut sedekah. Ada juga Persepuluhan dalam agama Nasrani. Lalu Berdana di agama Budha dan Dana Punia di agama Hindu. Itu artinya dalam aturan, maupun kebijakan dalam agama bahkan budaya manapun memang menganjurkan untuk saling berbagi dalam membantu sesama. Untuk bisa berbagi sesama itu bisa dimana saja lewat manapun juga dan bisa dengan siapa saja. Tak perlu merasa paling bisa ataupun merasa paling berjasa. Syukuri saja bahwa kita orang-orang yang dipilih untuk menyampaikan pertolongan-NYA Saat kita tak dibutuhkan lagi disuatu tempat yakinlah masih banyak tempat lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Berbagi sesama tak perlu berbelit apalagi dibikin rumit atau sulit. 

Cepat...tepat...sikat...Mainkan...membaikkan...lalu menghilang dalam kesenyapan. Insyaallah.. .tembus langit... Sekali lagi ya guys, berbagi sesama tak harus menunggu kaya. Ingat Tuhan Maha Kaya. Dialah yang memiliki kekayaan kita yang sesungguhnya.Sebagian harta kita titipan dari harta mereka kaum dhuafa.Kita juga tahu kan bahwa doa kaum dhuafa yang notabene mereka adalah orang-orang lemah itu sering di dengar Tuhan? So sering-sering saja kita berbagi dengan mereka, karena dengan begitu akan membuat kita selalu di perhatikan Tuhan. Seperti kita tahu,berbagi itu salah satu bentuk kebaikan. Harusnya saat kita sudah punya niat berbuat baik untuk orang lain yang ada adalah rasa tulus, ikhlas membantu tanpa peduli apakah nanti akan dihargai atau akan dipuji.Tapi terkadang masih ada juga orang yang berbuat kebajikan dengan maksud ingin dihargai atau dipuji. Padahal tak semua hal baik yang kita lakukan dinilai baik sama orang lain. 

Akibatnya saat orang lain mengabaikan kebaikan kita maka nanti kita akan merasa apa yang sudah kita lakukan sia-sia. Apa yang sudah dilakukan tidak dianggab, merasa tidak ada yang menghargai jerih payah dan jasa-jasa kita. Tak perlulah seperti itu, tetap berbuat kebaikan meski kadang dicaci maki.Tak perlu mengharap untuk dinilai baik oleh orang lain. Jika perlu sembunyikan kebaikan kita, jangan berharap dinilai orang dan biarkan dinilai oleh Tuhan.

Karena terkadang penilaian orang tak selalu benar, tapi yang pasti penilaian Tuhan akan selalu benar. Jadi tak usah ragu lagi guys jika ingin berbagi , karena berbagi itu sama saja investasi. Sebuah investasi pada Tuhan yang menguntungkan , mudah dan paling sederhana jika dilakukan.Tapi ingat tujuan utama berbagi adalah untuk ibadah dan mengharap berkah. Dan jangan mengharap keuntungan dalam bersedekah. Percayalah Tuhan akan mengganti tanpa kita harus meminta ganti. Dan Tuhan tak akan pernah ingkar janji,karena janji Tuhan adalah pasti.

Yuk...jangan ragu lagi, biasakan untuk mulai berbagi dan memberi. Karena terkadang bantuan yang kita nilai kecil bisa bernilai besar untuk orang lain. Tetap Semangiiiit... Semangat Menembus Langiiiit...!!!

Senin, 07 September 2015

JANUAR DAFFA MAULANA



Januar Daffa Maulana bin Yulianto Pambudi (1 tahun 8 bulan) adalah balita penderita Ichtyosis Lamelar, kelainan kulit dimana kulit bersisik dan selalu mengelupas, tak memiliki kulit ari yang disebabkan karena kelainan gen yang mengakibatkan adanya kerusakan kromosum dan bersifat turunan, tidak bisa disembuhkan seumur hidupnya.  Daffa adalah putra pertama pasangan Bapak Yulianto Pambudi dan Ibu Rahning Puspitasari yang lahir pada tanggal 14 Januari 2014. Daffa terlahir dalam keadaan prematur ketika kandungan ibunya menginjak usia 6 bulan. Dengan kondisi yang seperti itu Daffa yang awalnya lahir di RSUD SUKOHARJO akhirnya dirujuk ke RSD. Moewardi Solo untuk menjalani perawatan di ruang NICU selama kurang lebih 3 bulan. 

Meskipun pada akhirnya Daffa diperbolehkan pulang karena kondisi tubuh sudah memungkinkan tak lantas membuat pengobatan terhenti begitu saja. Kelainan kulit yang diderita Daffa mengharuskan dia untuk rutin chek up di poli kulit dan kelamin RSD. Moewardi Solo. Malangnya meskipun Daffa adalah peserta BPJS tak semua obat masuk dalam daftar obat yang tercover BPJS. Itu artinya keluarga Daffa harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli obatnya Daffa. 

Kondisi ekonomi yang memang dari keluarga tak mampu membuat Ayahnya Daffa yang hanya buruh di sebuah pabrik harus berjuang keras demi membiayai pengobatan Daffa. Saat ini Daffa tinggal bersama orang tuanya di rumah kakek dan neneknya yang beralamat di Dusun Gunung Mas RT 02/ RW 10  Desa Pagutan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Bahkan kakeknya Daffa pun rela merantau demi membantu membiayai pengobatan cucunya. Bagaimana tidak? mengandalkan penghasilan Pak Yulianto tentunya tak akan cukup untuk membiayai biaya berobat,belum lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tiap bulan mereka harus mengeluarkan biaya akomodasi  ke RS dan biaya pembelian obat. Sementara untuk perawatan kulit diluar medis Daffa harus mandi dengan rebusan kayu secang dan setiap seminggu sekali harus mandi air susu murni. Semua dilakukan agar kelembaban kulit tetap terjaga. Kondisi kulit Daffa yang selalu mengelupas, kering membuat dia gampang terluka dan tentu saja menghambat tumbuh kembangnya. Kulit begitu kering dan kencang, bahkan Daffa tak bisa memejamkan matanya sekalipun dalam keadaan tertidur.

Bisa kita bayangkan beban hidup yang harus ditanggung keluarga Daffa, kondisi seperti akan dijalani seumur hidup Daffa. Sungguh perjuangan hidup yang tak mudah dan perlu kesabaran yang luar biasa untuk merawat anak istimewa seperti Daffa. Setiap hari untuk menjaga kelembaban kulitnya Daffa harus sering-sering diolesi cream kulit dan juga olive oil. Tak sedikit biaya yang harus mereka butuhkan untuk merawat Daffa. Semoga saja banyak dermawan yang terketuk hatinya utuk meringankan kehidupan keluarga Daffa. Tetap semangat Nak, beruntunglah kamu dikelilingi keluarga yang selalu menjaga dan berjuang untukmu. Dan hanya keluarga pilihanlah yang dipercaya Tuhan untuk dititipi anugerah anak istimewa sepertimu. 



Donasi Buat Daffa

BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8 
a/n: Sedekah Rombongan
Kurir: 085329907666 (Nonis MS)


LEUKIMIA PAK MITRO

Mitro Wiryono (58 tahun) adalah seorang dhuafa yang tinggal di Dusun Ciman,Rt 02 / Rw 08, Desa Semagar, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Di sebuah dusun kecil, sekitar 8 km dari Kecamatan Girimarto, Pak Mitro tinggal bersama istrinya Ibu Diyem. Berdua mereka menghabiskan masa tuanya, menempati sebuah bilik kecil berdinding anyaman bambu yang sudah banyak berlobang, berlantai tanah. Tak layak disebut sebuah rumah,gubuk lebih tepatnya. Di usia senjanya,dalam keadaan tidak mampu Pak Mitro melewati hari-harinya dalam keadaan sakit.

Beberapa tahun yang lalu beliau sempat menjalani pengobatan dengan biaya umum karena memang tak terdaftar sebagai peserta Jamkesmas meskipun beliau pantas mendapatkannya. Waktu itu ada saudara yang berbaik hati meminjamkan sertifikatnya untuk jaminan pinjaman di sebuah BMT untuk biaya pengobatan, dan bahkan sampai sekarang pinjaman belum lunas dan Pak Mitro belum sembuh juga.  Tak ayal karena keterbatasan ekonomi beliau kehabisan biaya dan membuat pengobatan terhenti.

Dengan terhentinya pengobatan maka semakin memperparah kondisinya. Perut semakin membesar dan mengeras, bahkan sempat BAB darah. Anak-anaknya selama ini sudah berusaha maksimal untuk membiyai pengobatan akhirnya pun tak mampu lagi. Keluarga mulai pasrah, tapi akhirnya atas  bantuan  salah seorang warga,meminta bantuan kepada #SR. Tak berapa lama tim pun memutuskan untuk menghandle Pak Mitro dengan membawa berobat di RSUD Wonogiri.

Melihat kondisi Pak Mitro, dokter segera melakukan penanganan dengan meminta melakukan USG Abdomen. Ternyata hasilnya terbaca bahwa beliau mengalami pembengkakan hati dan limpa. Sempat menjalani rawat jalan di RSUD WONOGIRI selama satu minggu tetapi tak ada perubahan, selanjutnya di rujuk ke RSD. Moewardi Solo dan langsung menjalani rawat inap. Berdasar riwayat medisnya,tim dokter segera melakukan test lanjutan. Segera di lakukan test darah, test urine dan test fases.

Sementara hasil test darah cukup mencengangkan, kandungan leukosit yang harusnya <11 u/l ternyata melebihi batas mencapai 116 u/l. Diagnosa berubah ke arah leukemia. Untuk memastikan Dokter kembali melakukan test lanjutan yaitu BMP (Bone Marrow Puction) atau yang lebih mudah di kenal suntik sumsum tulang belakang. Dari serangkaian test yang dilakukan akhirnya diketahuai beliau menderita Leukimia atau kanker darah, dan untuk pengobatan selanjutnya yang akan ditempuh adalah kemoterapi. Itu artinya untuk kedepannya beliau harus rela bolak – balik Girimarto – Solo untuk menjalani pengobatan. Jarak tempuh yang jauh,serta biaya akomodasi yang tak sedikit tentunya. Belum lagi dalam waktu dekat ini beliau sering menjalani rawat inap di RS  karena kondisi yang belum stabil. Semoga setelah mendapat pengobatan kondisi Pak Mitro jadi lebih baik lagi,bisa sehat seperti sedia kala.

Donasi Buat Pak Mitro

BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8 
a/n: Sedekah Rombongan

Kurir: 085329907666 (Nonis MS)



Rabu, 19 Agustus 2015

Senyum Aprilia Cassandra Syaffariyani

Entah kenapa tiap mendampingi pasien anak-anak selalu terasa istimewa buatku.Seperti pasien baru dampingan SR kali ini. Namanya Aprilia Cassandra Syaffariyani, biasa dipanggil Sandra. Gadis cilik berusia 6 tahun ini terlahir pada tanggal 18 April 2009, putri kedua dari Bapak Taufik dan Ibu Esti Yahya Riyani. Sandra adalah siswi kelas 1 SD yang saat ini beralamat di Dusun Mloko, RT 02 RW 01, Desa Songbledek, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri.

Awalnya Sandra adalah gadis cilik yang manis, cerdas, aktif dan periang. Tapi keceriaan itu sekarang sirna sejak peristiwa bulan Juli tahun 2014. Naas dia mengalami luka bakar akibat ledakan tabung gas. Hampir sekujur tubuhnya mengalami kerusakan akibat peristiwa itu. Tak urung kondisi inilah yang membuat Sandra jadi minder, malu dan tak percaya diri. Terbukti saat pertama kali aku bertemu dengannya buru-buru dia menutup mukanya bahkan tak jarang menyembunyikan wajahnya dengan berlindung dibalik badan ibunya. Sandra sudah menjalani 7 kali operasi kulit di RSUD Wonogiri. Namun demikian ternyata kondisinya tidak mengalami banyak perubahan. Karena kondisi inilah akhirnya pihak RSUD Wonogiri memutuskan merujuk Sandra ke RSD. Moewardi Solo untuk ditangani dokter bedah plastik.


Sungguh akan jadi proses pengobatan yang melelahkan buat Sandra. Bagaimana tidak? Dia masih harus menjalani beberapa kali oprasi karena memang operasi akan dilakukan secara bertahab.Itu artinya dia masih akan kembali berhadapan dengan sayata pisau operasi untuk beberapa waktu kedepan. Yang membuat miris lagi meskipun peserta Jamkesmas, obat Sandra ternyata tak tercover biaya BPJS, itu artinya keluarga Sandra mengeluarkan biaya sendiri untuk pembelian obat. Sementara ayahnya Sandra hanyalah seorang nelayan disebuah perusahaan di pantai Sadeng dengan pendapatan yang tak menentu. Terbayang beratnya beban hidup mereka untuk membiayai pengobatan Sandra.

Masih teringat jelas pertemuanku kemarin dengan Sandra kemarin. Tatapannya sayu,tak ada senyum tersungging di wajahnya.Yaa Rabb, tak tega rasanya melihat dia seperti itu. Perlahan kudekati dia. Aku duduk didekatnya,kuusap kepalanya dan perlahan ku elus tangan mungilnya sambil terus aku ajak bicara. Awalnya dia diam saja terkesan tak merespon apa yang aku katakan. Tapi aku tak peduli,aku tetap saja bicara tentang apa saja,berusaha mengajaknya bercanda.Masih belum mempan juga ternyata. Dari cerita ibunya akhirnya aku tahu kalau Sandra suka selkali minu susu UHT. Tanpa buang waktu akupun segera bergegas menuju minimarket,dan tak berapa lama aku kembali membawa beberapa kotak susu UHT dan beberapa buah biskuit. Kembali kudekati dia sambil meneruskan ceritaku.Aku sempat terhenti bicara sejenak saat kusingkap bajunya,YAA RABB kerusakan kulitnya hampir 75%.Air mataku hampir saja mengalir tapi segera kuusap karena bagaimanapun aku harus kuat.

Dia masih saja diam,lalu aku keluarkan HP, aku perlihatkan padanya beberapa pasien anak-anak yang pernah jadi pasien dampinganku. Aku katakan padanya bahwa ada yang lebih berat dari dirinya, tapi sampai sekarang masih bertahan. Itu artinya tak ada alasan buat dia untuk menyerah. Aku katakan padanya bahwa dia pun bisa seperti mereka, tetap semangat dan sabar. Ajaib...tiba-tiba dia menyandarkan tubuhnya dipelukanku,dan tersenyum menatapku. Senyum yang manis Nak. Lalu dia mengambil HP miliknya dan menunjukkan sebuah photo. "Ini dedek sebelum terbakar ,Tante", ucapnya lirih. Untuk kesekian kalinya air mataku hampir terjatuh kembali. Kugenggam tangannya lebih erat lagi dan kuyakinkan padanya, "Iya,dik Sandra harus sabar dan tetap semangat yaa,insyaallah nanti sembuh seperti dulu". Entah bagaimana mendadak dia bersemangat,meminum susu yang aku belikan tadi dan berkata, "iya Tante, dedek mau sembuh, mau dioperasi". Tak lama kemudian dia beranjak dari duduknya, menggandeng tanganku dan mengajakku ke tempat bermain. Sebuah ruangan yang memang disediakan rumah sakit. Segera diambilnya buku mewarnai dan krayon. Kutunggui dia untuk beberapa saat, dan saat aku mau pamit pulang tak lupa aku ingatkan dia untuk tetap semangat, dia tersenyum dan mengangguk, mengajak tost kedua telapak tangan dan sebuah ciuman mendarat di pipiku. So Sweet....Terima kasih Sandra, tetap semangat yaa...Masa depanmu masih panjang Nak, berjuanglah...kamu anak yang kuat dan kamu pasti bisa.
 
Salam Semangiiit dari tante...Semangat Menembus Langiiit...


Donasi Buat Sandra

BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan