Sabtu, 09 April 2016

MENAHAN SAKIT DEMI MENAFKAHI KELUARGA DAN MERAWAT SUAMI YANG JUGA SAKIT

WARMI


Ibu Warmi (48 tahun), adalah warga adalah warga Dusun Sanggrahan RT 02 RW 08, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Sekitar setahun yang lalu menderita sakit tapi belum bisa melakukan pengobatan. Bu Warmi sering mengalami sakit bagian perut dan mengalami pendarahan. Beliau adalah tulang punggung keluarga karena suaminya, Bapak Sukijo tak bisa mencari nafkah karena menderita sakit juga karena stroke. Sementara mereka masih harus membiayai sekolah kedua anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Kondisi seperti inilah yang membuat Bu Warmi tak menghiraukan sakitnya karena lebih mementingkan kebutuhan keluarganya. Beliau sekeluargapun tak ada yang memiliki jaminan kesehatan baik yang dari pemerintah maupun yang mandiri.
Lama kelamaan pada akhirnya Bu Warmi tak kuat juga menahan sakitnya. Sekitar 6 bulan yang lalu beliau  benar-benar drop dan harus dilarikan ke RS. Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Bu Warmi didiagnosa menderita kistoma ovari. Dokter menyarankan untu dilakukan operasi pengangkatan kistanya. Tak memiliki jaminan kesehatan, tak memiliki biaya, membuat beliau pasrah pada keadaannya. Belum lagi masih harus merawat suaminya yang sakit, sementara beliau sendiri juga sakit.
Melihat kondisi yang seperti itu salah seorang tetangga menghubungi tim #SR. Tim segera melakukan survey dan melihat kondisi rumah serta kondisi keluarganya memang selayaknya dibantu. Langkah pertama segera dibuatkan BPJS, dan begitu BPJS aktif tak perlu menunggu lama , tim segera membawa beliau ke RSUD Wonogiri. Seperti saran dokter sebelumnya, tetap harus dilakukan operasi. Pihak RSUD pun segera menjadwalkan operasi akan dilakukan awal bulan Januari. Dan untuk sementara waktu sebelum dilakukan pengangkatan, beliau diberikan resep anti nyeri.
Harapan Bu Warmi bisa kembali sehat seperti sedia kala, bisa merawat suaminya yang sakit, bisa mengurus keluarganya dan terutama bisa mencari nafkah kembali. Sedekaholic ...masa depan keluarga Bu Warmi untuk saat ini tergantung pada beliau. Bagaimana kelangsungan hidup keluarga itu jika Bu Warmi terus-terusan sakit. Bagaimana masa depan kedua putranya yang saat ini masih sekolah. Sementara keduaa putranya pun saat ini rela kerja paruh waktu untuk sekedar mencari uang saku. Merekapun berharap bisa menyelesaikan pendidikan dan bisa segera bekerja meringan kan beban sang Ibu.
Sedekaholic ,berkat uluran tangan anda Bu Warmi bisa menjalani operasi pengangkatan kista. Hasil PA juga cukup melegakan tak ditemukan keganasan.Kista seberat 2 kg lebih berhasil diangkat dari rahimnya. Setelah 5 bulan pendampingan akhirnya pada chek up terakhir dokter menyatakan bahwa Bu Warmi sudah sembuh, tak perlu berobat lagi dan disarankan untuk chek up jika mengalami keluhan saja.
Puji syukur kehadirat Allah serta ucapan terima kasih beliau haturkan berkat Sedekah Rombongan yang selama ini menyampaikan amanah dari kedermawanan sedekaholic, akhirnya beliau bisa sembuh. Harapan beliau tentu saja bisa mengurus keluarga kembali dan merawat suaminya yang selama ini sakit. Sedekaholic...sedikit kami sampaikan, bahwa Bu  Warmi sempat menunda operasinya dua kali karena pada saat dijadwalkan operasi suami beliau masuk RS. Lagi-lagi demi merawat suaminya ,beliau rela menahan sakit yang dideritanya.
Akhir kata, kami Tim ikut merasa lega, satu tugas kami sudah selesai. Doa kami Bu Warmi dan keluarga tetap di beri nikmat kesehatan, dan dapat menata hidup keluarganya kembali.

Salam Tembus Langit....

DONASI UNTUK  PASIEN #SR  DAPAT DISALURKAN KE :

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS M.S)

DUA KALI SEMINGGU JALANI CUCI DARAH KARENA GAGAL GINJAL

TIJO KARTOMO


TIJO KARTOMO(62  Tahun, Gagal Ginjal) , warga dari Dusun Nawangan 01/04, Desa  Sembukan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Beliau menderita gagal ginjal sekitar 8 tahun yang lalu. Awalnya baru satu ginjal yang mengalami masalah, tapi semua dihiraukan saja. Keterbatasan ekonomi yang jadi salah satu penyebabnya. Dengan penghasilan yang  tidak menentu sebagai buruh tani, yang jangankan sampai membiayai pengobatan , sekedar untuk makan sehari- hari saja pas-pasan. Bahkan sudah 3 tahun ini beliau tak lagi bekerja dan penghidupan ditanggung oleh salah satu anaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik.  Sementara ada lagi salah satu anaknya yang awalnya jadi harapan untuk membantu pengobatannya pun saat ini juga tergolek lemah karena sakit jantung yang saat ini sedang di deritanya. Keadaan inilah yang membuatnya pasrah pada keadaan.
Sekitar 3 bulan yang lalu , setelah bertahun-tahun membiarkan rasa sakitnya, beliau tumbang juga. Atas bantuan saudara dan warga sekitar, beliau dibawa ke RS. MARGA HUSADA. Hasilnya cukup mengejutkan. Beliau mengalami gagal ginjal, kedua ginjalnya tak lagi berfungsi dan di sarankan menjalani Hemodialisa( cuci darah) seminggu sekali. Pak Tijo juga didiagnosa menderita Diabetes Militus.
Pak Tijo sempat mengikuti anjuran dokter menjalani cuci darah seminggu sekali sebanyak 5 kali. Tapi sekarang sudah terhenti  4 kali dikarenakan tak ada biaya berobat. Beliau memang sudah memiliki Jamkesmas, tapi kendala utama untuk beliau adalah biaya akomodasi ke RS. Jarak tempuh dari rumah beliau ke RS hampir 30 an km. Perlu menyewa mobil jika ingin ke RS mengingat tak ada kendaraan umum yang sampai ke tempat beliau. Seandainya adapun, melihat kondisi beliau yang saat ini lemah dan mengalami pembengkakan ,beliau tak akan mampu mengendarai kendaraan umum.
Tim #SR mendapat laporan, dan saat itu juga melakukan survey menuju kediaman Pak Tijo. Benar saja, kondisinya sangat memprihatinkan. Dengan pandangan yang mulai kabur, perut dan kaki mulai membengkak. Pak Tijo harus segera mendapatkan penanganan kembali, melanjudkan cuci darah lagi.
Karena sempat terhenti cuci darah untuk beberapa kali sudah pasti membuat kondisi beliau semakin buruk. Bahkan sekarang dokter menganjurkan untuk menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu secara rutin.Kini berkat bantuan para sedekaholic lewat Sedekah Rombongan, beliau bisa menjalani cuci darah lagi secara rutin.
Sedekaholic ...harapan Pak Tijo tidaklah berlebihan,  hanya ingin keadaannya lebih baik, bisa rutin menjalani cuci darah. Karena sekali saja terlewat beliau akan merasa lemas, mual dan badan membengkak. Cuci darah mungkin tak kan bisa menyembuhkan sakitnya, tapi setidaknya bisa mengurangi penderitaannya. Semoga saja uluran tangan dan rejeki para sedekaholic bisa mewujudkan harapan Pak Tijo.


Salam Tembus Langit...!!!

DONASI UNTUK PAK TIJO DAN PASIEN #SR LAINNYA DAPAT DISALURKAN KE :

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS M.S)








RELA MINUM SETENGAH DOSIS OBAT ASAL TIAP HARI BISA MINUM OBAT

SUYANTO


Bapak Suyanto (63 tahun), warga Dusun Mirihan RT 01/RW 03 , Desa Tanjungsari, Kecamatan Jatisrono. Sudah dua tahun terakhir ini beliau menderita sakit jantung. Awalnya pasien sering merasakan nyeri di dadanya. Berobat ke dokter umum terdekat dan beberapa kali menjalani rawat inap di RSUD. Tanpa memiliki jaminan kesehatan apapun Pak Suyanto berobat sebulan dua kali. Apa yang beliau punya dijual untuk biaya berobat. Dirumahnya nyaris tak ada barang berharga lagi karena sudah habis terjual. Bersama istrinya, Ibu Kasmi ,anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP serta ayahnya yang sudah renta Pak Suyanto tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Sementara putra sulungnya selepas lulus SMA memutuskan bekerja sebagai buruh pabrik demi menopang kehidupan orang tua serta membiayai sekolah adiknya.
Sehari – hari beliau terbaring lemah di kasur tipis yang diletakkan diatas ubin. Nafasnya terengah- engah saat beliau bicara. Beliau mengalami sesak nafas karena penyakit jantung yang dideritanya. Satu –satunya yang bisa meringankan penderitaannya hanyalah minum secara rutin obat yang di berikan oleh dokter. Begitu tergantungnya beliau akan obat – obatan itu hingga di saat benar- benar tak memiliki uang beliau rela minum setengah dari takaran obat yang disarankan. Tujuannya tak lain agar obat lebih awet atau tak cepat habis.
Berkali – kali beliau disarankan oleh dokter untuk menjalani rawat inap, tapi lagi-lagi karena ketiadaan biaya Pak Suyanto rela menahan sakitnya. Hingga akhirnya salah seorang perangkat desa setempat meminta bantuan pada Tim SR. Tim segera melakukan survey dan memutuskan membuatkan BPJS serta membayar premi per bulannya karena untuk membayar premi per bulan beliau memang tak mampu. Sementara  itu beliau juga didaftarkan jadi peserta Jamkesmas untuk tahun ini. Artinya begitu kartu Jamkesmas jadi BPJS Mandiri akan non aktif dengan sendirinya dan bisa meringankan beban Pak Suyanto sekeluarga.
Dan benar saja, setelah memiliki kartu BPJS beliau bisa berobat rutin, bisa minum obat dengan dosis penuh tanpa harus mengurangi setengahnya.Pak Suyanto yang pertama kali kita temui dahulu terbaring lemas, sesak nafas serta mengalami pembengkakan di perutnya, kondisinya jauh lebih baik . Sekarang beliau sudah bisa berjalan keluar rumah biarpun masih tertatih. Nafas mulai berkurang sesaknya, dan pembengkakan di perutnya juga sudah banyak berkurang.

Semoga saja setelah mendapat pendampingan dalam mendapatkan pengobatan dari Sedekah Rombongan Pak Suyanto bisa pulih seperti sedia kala, dan dapat menopang kehidupan keluarganya lagi. 
Salam Tembus Langit.

5 TAHUN MENDERITA MEGACOLON, TONI SEMPAT DIKIRA KEKURANGAN GIZI

TONI SISWANTO

Toni Siswanto (10 Tahun, Megacolon) siswa kelas 3 SD ini putra keempat dari lima bersaudara pasangan Bapak Senen dan Ibu Bimani. Beralamat di Dusu Jetis 04/02, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Kehidupan mereka jauh dari kekurangan. Pak Senen sehari-hari hanyalah seorang buruh serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Menghidupi lima orang anak dan juga ibunya yang sudah renta. Mereka tinggal di sebuah rumah yang terlihat kumuh berdinding anyaman bambu yang sudah banyak lobangnya, sebagian berdinding batu bata yang sudah usang dimakan usia. Pintu terbuat dari kayu usang yang mulai rapuh, atap tak jauh berbeda banyak genting yang pecah. Membiayai  sekolah  empat orang anak dengan penghasilan pas-pasan, bahkan selain Toni masih ada lagi anaknya yang saat ini juga sakit. Anak sulungnya yang diharapkan bisa meringankan beban keluarga justru menderita gangguan jiwa. Sama seperti Toni pada , karena ketiadaan biaya sakit itu dibiarkan saja.
Toni sendiri sebenarnya  sudah mulai merasakan sakit saat dia berumur 5 tahun. Keadaan ekonomi yang kekurangan membuat keluarga membiarkan sakit itu dan berharap akan sembuh dengan sendirinya, mengingat terkadang sakit itu kadang timbul dan hilang dengan sendirinya. Hingga akhirnya penyakit itu tak kunjung sembuh, tubuh Toni semakin kurus, perut semakin membesar.  Akhirnya ada tetangga yang menyarankan membawa Toni ke RS. Mereka awalnya menolak karena mereka kebingungan soal biaya. Atas informasi tetangganya itu juga Tim #SRWonogiri diminta tolong untuk membantu Toni. Tim memang baru menerima laporan saat Toni sudah dirawat di RS. Tapi biarpun agak terlambat Tim segera bergerak dan memutuskan menghandle kasus Toni
Awalnya Toni dicurigai menderita gizi buruk. Tapi kecurigaan itu berubah saat diketahui bahwa Toni mengalami masalah BAB sejak kecil, hanya saja tak begitu di hiraukan. Kepastian itu baru  muncul saat Toni di bawa berobat ke RSUD WONOGIRI. Dari hasil rongent , USG dan Lopograpi diketahui bahwa Toni menderita Megacolon. Tindakan operasi segera diagendakan , tiga hari setelah menjalani rawat inap.
Tanggal 4 Februari 2016, operasi pertama dilakukan di IBS RSUD WONOGIRI untuk pemotongan usus dan pembuatan colostomi. Enam hari kemudian tepatnya tanggal 10 Februari Toni diperbolehkan pulang. Melihat kondisi rumah Toni sungguh membuat hati miris. Dalam keadaan pulang dari RS pasca menjalani operasi, Toni hanya tidur diatas tempat tidur besi tua, hanya beralas tikar yang sudah sobek sana sini, tanpa kasur karena mereka memang tak punya itu. Hanya ada beberapa bantal kumal dan lusuh. Akhirnya Tim membelikan kasur, dan perlengkapan tidur lainnya. Sementara untuk medikasi dirumah demi merawat luka operasinya, Tim mendatangkan perawat untuk melakukan medikasi sampai luka operasi dinyatakan sembuh.
Untuk tindakan selanjudnya masih akan ada operasi lanjutan. Penutupan stoma dan penyambungan usus. Hanya saja untuk operasi lanjutan tak bisa di lakukan di RSUD. WONOGIRI dan harus dirujuk ke RSD. Moewardi Surakarta. Sementara untuk sekitar 6 bulan kedepan sebelum operasi lanjutan, Toni harus menjalani chek up rutin di RSUD WONOGIRI.
Sedekaholic ... Toni berasal dari keluarga dhuafa, yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Harapan Toni dan keluarga tak lain kesembuhan Toni. Ditengah himpitan ekonomi dengan segala keterbatasannya keluarga Toni berjuang demi kesembuhan Toni. Toni ingin bisa normal seperti anak seusianya, ingin kembali bermain dan bersekolah bersama saudara kembarnya. Mari berbagi meringankan beban keluarga ini. Bantu kesembuhan Toni, karena  masa depannya masih menanti. Membantu kesembuhan Toni sama saja menyelamatkan salah satu generasi penerus bangsa. Masihkan kita mau menutup mata untuk keluarga Toni, keluarga dhuafa?  Sisihkan sedikit rejeki untuk Toni, saatnya kita peduli.

Salam Tembus Langit...


Kamis, 03 Maret 2016

FARID ABDULLAH



Bayi Yang Terlahir Dengan Beberapa Kelainan
Bagi sepasang suami istri, kehadiran seorang anak tentulah sangat dinantilkan, apalagi ini adalah anak yang pertama. Sama seperti yang sedang dialami oleh pasangan muda ini. Suharwin (29 tahun) dan istrinya Yesi Setiani (25 tahun) begitu bahagia saat mengetahui bakal dikaruniai seorang anak. Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, tanggal 14 Januari 2016 lahirlah putra pertama mereka. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, semua berubah menjadi kesedihan saat mengetahui kondisi putra mereka. Bayi yang diberi nama Farid Abdullah ini ternyata  memiliki beberapa kelainan, jauh seperti harapan mereka yang awalnya berharap putranya lahir dengan kondisi sempurna.

Ya ...Farid terlahir tak seperti anak normal. Terlahir dalam keadaan atresia ani atau tidak memiliki anus, tidak memiliki lubang telinga dan tidak memiliki daun telinga sebelah kiri serta jari tangan masing-masing hanya 4 jari, telapak tangan bengkok serta adanya kelainan jantung. Sungguh sebuah ujian yang tak ringan bagi keluarga Farid. Ayahnya hanyalah seorang terapis keliling yang hanya bekerja jika ada panggilan saja. Ibunya memilih jadi ibu rumah tangga. Farid tergolong keluarga yang sangat sederhana sekali, bahkan mereka masih menumpang di rumah kakek neneknya. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang beralamat di Dusun Tahunan 02/06, Desa Sambirejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

Karena kondisi ekonomi yang seperti itulah, selama dalam kandungan Farid kurang mendapat perawatan pada masa kehamilan. Perkembangannya kurang terpantau, hanya diperiksakan di bidan dengan fasilitas minim dan hanya sekali saja di periksakan ke dokter kandungan. Itupun saat usia kandungan baru menginjak usia 5 bulan jadi belum nampak dengan jelas.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab ketidak normalan yang diderita oleh Farid, karena sampai saat ini Farid belum dikonsultasikan lebih lanjut. Farid yang lahir secara normal di bidan setempat sempat di rujuk ke RSD. Moewardi Surakarta untuk menjalani operasi pembuatan stoma sebagai pengganti anus untuk sementara. Di RS pun pasien hanya 4 hari meskipun seharusnya Farid harus tetap di rawat, tapi karena keterbatasan biaya terpaksa pulang paksa. Saat ini untuk sementara Farid dirawat di rumah dengan pengawasan bidan setempat. 

Satu per satu masalah muncul silih berganti, dan yang membuat mereka kembali terpukul adalah saat mereka di beri tahu bahwa kemungkinan besar Farid menderita kelainan jantung. Ada 4 kebocoran jantung yang harus ditangani di Jogja atau Jakarta. Bayi mungil itu harus menjalani operasi kebocoran jantung.

Saat ini pihak keluarga sedang mengusahakan pembuatan BPJS, tapi tetap saja mereka masih berfikir tentang biaya akomodasi ke RS karena jarak rumah mereka ke RS sangatlah jauh. Belum lagi untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Sedekahholic....Farid membutuhkan uluran tangan anda. Keluarga Farid tak mengharap kesempurnaan untuk Farid, mereka cukup menerima dengan ikhlas atas ketidak sempurnaan Farid. Tapi bukan berarti mereka berpasrah diri dan menyerah untuk Farid. Untuk memiliki anus Farid masih harus menjalani dua kali operasi lagi. Operasi pembuatan anus, dan operasi penyambungsn usus sekaligus penutupan stoma. Belum lagi untuk operasi jantungnya. Masalah yang berat untuk orang tua Farid yang kebetulan memang baru membina rumah tangga dalam hal ini mereka belum mapan secara ekonomi. Mereka hanya ingin sedikit meringankan dan mengurangi penderitaan Farid. Mereka menyadari  kesempurnaan hanya milik Allah. 

Sedekaholic ... Farid hanyalah bayi mungil dalam ketidakberdayaan , kondisinya  lemah.  Baru beberapa bulan dia menghirup udara di dunia  ini. Diapun pasti ingin lebih lama lagi berada dalam pelukan kedua orang tuanya di dunia. Berapapun uluran yang anda berikan akan memperpanjang hirupan nafasnya. Yakinlah tak ada yang sia-sia untuk membantu kesembuhan Farid, yakinlah Allah memberi kelebihan pada setiap kekurangan yang dimiliki Farid. Farid berhak mendapatkan kehidupan di balik ketidak sempurnaanya. Dia berhak mendapatkan kehidupn seperti anak-anak normal lainnya.
Kita punya dua telinga...dengarkan rintihan tangisan bayi yang hanya mempunyai satu telinga. Kita yang leluasa bernafas...coba rasakan sesaknya dia bernafas. Kita yang punya dua tangan sempurna, cobalah genggam kedua tangan mungilnya yang tak sempurna. Apakah kita ingin menutup mata  melihat keadaan bayi seperti ini? Buka mata hati, buka nurani dan mari berbagi. Sisihkan rejeki anda saatnya kita peduli. Semoga anda adalah orang-orang pilihan Tuhan untuk menjadi perantara   untuk menyampaikan  pertolonganNya.

Salam Tembus Langit...!!! 

Donasi Buat Farid
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan

Konfirmasi: 085329907666 (Nonis MS)

Selasa, 29 Desember 2015

Empat Dokter Spesialis Yang Menangani

LUTFHI ARYA FIRDAUS


LUTFHI ARYA FIRDAUS (11 bulan), terlahir pada tanggal 18 Januari 2015. Putra pertama pasangan Bapak Anton Sujarwo  dan Ibu Siti Aisyah ini dilihat secara sepintas memang seperti anak yang tak normal. Dengan BB yang hanya 5 KG, jelaslah bahwa perkembangannya tak normal. Lutfhi dan orang tuanya saat ini masih tinggal menumpang dirumah kakek dan neneknya, tepatnya di Dusun Pancuran 01/06, Desa Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Lutfhi memang mengalami masalah kesehatan sejak lahir. Terlahir dalam keadaan terlambat satu minggu dari jadwal kelahiran membuat bayi ini harus dilahirkan lewat proses dipacu, karena terlambat beberapa menit saja mungkin nyawa Lutfhi tak terselamatkan. Lahir di RS. PKU MUHAMMADIYAH WONOGIRI Lutfhi terlahir dalam keadaan tak bisa menangis untuk beberapa waktu karena terlanjur minum air ketuban ibunya. Untuk menyelamatkan nyawanya, Lutfhi segera dirawat di inkubator  dan dipasang beberapa alat bantu, baik alat bantu pernapasan ataupun alat bantu makanan. Selama 5 hari di inkubator Lutfhi menjalani perawatan dan fisiotherapi agar bisa menyusu tanpa alat bantu selang. Dinilai sudah sehat Lutfhi akhirnya diperbolehkan pulang.

Masalah mulai muncul saat Lutfhi baru berusia satu minggu. Awalnya mulai ditemukan bercak warna merah di telapak kaki seperti keloid. Tapi lama kelamaan tumbuh lagi dibeberapa tempat. Lutfhi sempat dibawa ke dokter dan dari penjelasan dokter waktu itu menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia bercak merah itu bakal hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata keadaan tak seperti itu adanya, semakin bertambah usia becak –bercak di kulit itu semakin banyak bahkan justru berbentuk benjolan seperti daging tumbuh. Bukan hanya itu saja, Lutfhi juga sering sakit, panas, batuk, pilek, tak ada hentinya. Usia 3 bulan Lutfhi dibawa ke salah satu Dokter specialis anak di Wonogiri bahkan sempat dirujuk untuk dirawat di RSUD WONOGIRI. Analisa sementara waktu itu Lutfhi mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru. Tak hanya itu saja Lutfhi dikhawatirkan menderita kanker kulit. Untuk memastikan kondisinya pihak RS menyarankan untuk melanjudkan pengobatan ke RS yang lebih lengkap tim dokter ahlinya, dalam hal ini RSD. Moewardi lah yang ditunjuk. Tapi karena ketiadaan biaya, keluarganya hanya pasrah. Untuk sekedar berobat di RSUD WONOGIRI saja keluarga harus menunggu punya uang dulu, terbayang dalam pikiran mereka  mereka berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan ke Solo.

Tak mendapat pengobatan selama kurang lebih 8 bulan sudah pasti membuat kondisi Lutfhi semakin buruk. Lemah, dan menderita gizi buruk. Lutfhi sebenarnya sudah memiliki BPJS, tapi  untuk mengangsur BPJS sebesar Rp.25.500,- saja mereka tak mampu. Tim SR mendapatkan informasi soal Lutfhi dari salah satu bidan desa dan petugas TKSK Selogiri. Benar saja, pada saat dilakukan survey kami mendapati kondisi Lutfhi sangat memprihatinkan. Lemah, kurus, tak ada senyum sama sekali diwajah mungilnya. Angsuran BPJS pun nunggak 5 bulan sampai membuat kartu tak bisa dipakai karena sempat dinonaktifkan. Kamipun segera mengurus pengaktivan kembali BPJS nya dengan melunasi semua tunggakan termasuk membayar premi bulan berikutnya.

Setelah semua berkas lengkap kami segera membawa Lutfhi berobat kembali ke RSUD WONOGIRI. Pengobatan pertama setelah sempat terhenti selama 8 bulan. Melihat kondisinya pihak RSUD WONOGIRI segera merujuk ke RSD.MOEWARDI SURAKARTA. Kami pun bergerak membawa Lutfhi ke RSD.MOEWARDI. Tak berbeda dengan RS sebelumnya, pihak RSD.MOEWARDI segera ambil tindakan cepat. Hari itu juga Lutfhi langsung  diminta menjalani rawat inap. Beberapa test langsung dilakukan karena Lutfhi dicurigai menderita beberapa penyakit. Beberapa dokter specialist juga ikut terlibat dalam penanganan Lutfhi. Mulai dokter anak, hematologi, paru, jantung, urologi dan syaraf ikut melakukan pemeriksaan. Diagnosa awal Lutfhi menderita hemangioma kapiler,infeksi paru-paru, kelainan jantung, microtestis, bahkan curiga ke arah microcepalus mengingat ukuran kepalanya yang kurang untuk anak seusianya. Test darah, USG, Rongent, EKG, bahkan CT Scan dijalani saat rawat inap selam 18 hari. Hasilnya Lutfhi hanya menderita hemangioma kapiler itupun tak begitu membahayakan dan kelainan jantung. Sementara untuk paru-paru dinyatakan tak ada masalah, masalah pernapsan yang sebenarnya justru disebabkan karena kelainan jantungnya. Mikrocepalus juga tak ditemukan karena dari hasil CT Scan tidak ditemukan kelainan hanya karena faktor kurangnya BB saja.  Akan tetapi ada kecurigaan yang cukup mencengangkan. Lutfhi dicurigai menderita kelainan kromosum yang memungkinkan dia mengidap satu diantara syndrom 9. Dan untuk mengetahui kepastian sakitnya Lutfhi disarankan menjalani test , hanya saja biaya test tak murah dan tak tercover BPJS. Bahkan test hanya bisa dilakukan di Jakarta. Sementara tanpa kepastian hasil test tim dokter tak bisa mengambil langkah pasti untuk pengobatan selanjutnya. Sementara ini  Lutfhi menjalani pengobatan rawat jalan dengan diberi obat jantung sambil tetap menjalani observasi dan evaluasi. Untuk msalah kelainan kromosum ini Lutfhi ditangani oleh dokter endokrin anak. Itu artinya saat ini Lutfhi ditangani 4 dokter spesialis, yaitu dokter specialis anak, jantung, hematologi dan endokrin anak.

Semoga saja setelah diketahui penyakit yang sebenarnya Lutfhi segera mendapatkan penanganan yang tepat. Sedekaholic ...Lutfhi membutuhkan uluran tangan kita untuk kesembuhannya. Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan  sangat kesulitan membiayai pengobatan Lutfhi. Biaya berobat ke Solo juga tidaklah sedikit. Apalagi biaya menjalani test ke Jakarta sudah pasti akan membutuhkan banyak memakan biaya, karena bagaimanapun mereka membutuhkan biaya untuk keseharian selama mereka di Jakarta. Belum lagi susu yang dikonsumsi Lutfhi pun khusus. Kedua orang tua Lutfhi terpaksa harus bekerja semua demi membiayai hidup, sementara Lutfhi diasuh neneknya di rumah. Belum lagi kakek Lutfhi saat ini juga sedang menderita stroke, mau tak mau beban orang tua Lutfhi pun jadi bertambah. Tak heran, untuk membayar premi BPJS per bulan pun mereka kesulitan.

Masa depan Lutfhi masih panjang, disaat anak seusianya sudah bisa belajar berjalan, dia hanya berbaring lemah karena kondisinya. Keterlambatan dalam tumbuh kembangnya karena dipengaruhi oleh sakitnya. Semoga denganpengobatan yang akan dijalaninya nanti Lutfhi mendapat kesembuhan dan bisa normal seperti anak seusianya.
Salam Tembus Langit....

Donasi Buat Lutfhi
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan

Kurir: 085329907666 (Nonis MS)

Kamis, 05 November 2015

Bayu Yulianto

BAYU, HOW ARE YOU ?

Bayu Yulianto, dia seorang pemuda berusia 20 tahun yang bertempat tinggal di Dusun Tempel, Desa Kayulaka, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Saat menangani kasusnya waktunya hampir bersamaan dengan Bu Tarni, hanya selang dua hari saja.

Informasi soal Bayu kami dapatkan dari salah seorang teman yang saat itu justru sedang merantau di Jakarta. Dan untuk memastikan kebenaran info itu kami segera melakukan survey. Info itu ternyata benar. Dia anak yatim piatu yang tinggal berdua saja dengan neneknya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Kondisinya juga sangat memprihatinkan. Tak bisa berjalan karena ada luka di bekas operasinya. Bayu mengalami kecelakaan motor sekitar tahun 2011 dan menjalani operasi pemasangan pen di paha sebelah kiri. Operasi dilakukan di salah satu RS swasta di Wonogiri. Tapi beberapa bulan kemudian ada masalah dengan kakinya. Terasa sakit dan mulai mengeluarkan darah disertai cairan nanah. Tim dokter sempat menyarankan dilakukan oprsi ulang. Tapi karena ketiadaan biaya operasi urung dilakukan. Waktu itu dia tak memiliki kartu jaminan kesehatan. Jadi semua biaya secara umum itupun atas biaya swadaya masyarakat sekitar. Jangankan untuk membiayai operasi, untuk makan sehari-hari saja mengandalkan belas kasihan tetangga. Secara bergantian warga sekitar memberi makanan pada Bayu  dan neneknya.

Kondisi yang seperti itulah yang membuat Bayu mengurungkan niatnya melakukan operasi lagi. Dia merawat lukanya sendiri di rumah, sesekali jika ada rejeki dibawa ke Puskesmas. Keadaan seperti itu berlangsung kurang lebih 1,5 tahun. Itu artinya selama itu luka mulai mengalami pembusukan, mengeluarkan darah dan nanah.

Seperti biasa kami segera bergerak cepat, membawa Bayu ke RS. Ortopedi Solo pada keesokan harinya. Di RS ini segera dilakukan rongent untuk melihat kondisi paha kirinya. Hasilnya diluar dugaan kami. Terbaca dengan jelas bahwa pen melengkung, bahkan skrub patah. Patahan skrub itu yang setengah tertancap di dalam tulang, setengahnya lagi terlepas menusuk ke dalam daging. Skrub yang tertinggal di dalam daging itulah yang menyebabkan infeksi sampai mengeluarkan darah dan nanah setiap harinya. Dokter segera ambil tindakan operasi. Dua hari kemudian operasi dilakukan. Operasi pertama untuk mengambil pen dan membersihkan tulang-tulang mati. Sementara dalam kondisi infeksi dalam paha seperti itu tak mungkin dipasang pen dalam lagi maka dokter memutuskan memasang pen luar. Maka opersi lanjutan adalah pemasangan pen luar.

Pasca opersi pemasangan pen luar sambil menunggu penyembuhan infeksi dipahanya, Bayu menjalani fisioterapi rutin di RSUD Wonogiri. Selain itu dia sendiri rajin melatih kakinya di rumah. Selama lebih dari 1,5 tahun tak bisa di gerakkan membuat Bayu harus berusaha keras melatih otot kakinya agar mau berfungsi kembali. Kesabaran dan kerja kerasnya membuhkan hasil. Setahun lebih kami mendampingi dia tak sedikitpun dia mengeluh atau kehilangan semangat untuk sembuh. Akhirnya pen luar bisa di lepas dan sekitar 2 bulan yang lalu dokter menyatakan sudah sembuh dan tak perlu melakukan pengobatan lagi.

Dan hari ini secara tak sengaja waktu kami move di RSUD Wonogiri kami bertemu dengan salah satu tetangga Bayu dan mengabarkan bahwa Bayu akan mulai bekerja. Dia bertekat akan bekerja untuk menghidupi keluarga dan merawat neneknya tanpa harus bergantung pada tetangga sekitar seperti dulu. Dia siap jadi tulang punggung nenek yang biarpun beliau sendiri sedang sakit tua tapi tetap sabar merawat Bayu dengan sisa-sisa kekuatannya.Mendengar kabar itu sungguh kami tak bisa menahan air mata karena terharu. Selamat berjuang Bayu, perjuangan hidup yang sesungguhnya sudah menantimu. Raih masa depanmu yang sempat tertunda karena sakitmu. Rawat dan temani nenek di sisa usianya. Kami bangga padamu. Tetap Semangiiiiit...Semangat Menembus Langiiiiit...!!! Buatlah nenekmu bangga...hanya beliau yang kamu punya saat ini, dan yakinlah orang tuamu di syurga pasti tersenyum bangga melihatmu.Keep fight...keep your spirit and...never give up.

Salam Tembus Langit....!!!