Sabtu, 09 April 2016

KETABAHAN BU KATNI YANG HAMPIR KEHILANGAN KAKI

KATNI


Ibu Katni (43 tahun) adalah seorang dhuafa yang tinggal di Dusun Temon Lor RT 02/RW 05, Desa Temon, Kecamatan Baturetno ,Kabupaten Wonogiri.  Tinggal di sebuah rumah mungil berdinding kayu hasil program bedah rumah dari pemerintah, karena sebelumnya rumah Bu Katni memang tak layak huni. Berdinding anyaman bambu yang sudah banyak lobangnya bahkan beberapa bagian dinding terpaksa ditambal dengan lembaran kardus bekas. Berlantai tanah, atap rumahpun mulai banyak yang bocor, langit rumahpun mulai rapuh. Kesehariannya Bu Katni tinggal bersama suaminya Pak Jarto dan anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Keluarga ini memang tergolong tidak mampu. Suaminya bermata pencaharian sebagai tenaga serabutan dengan pendapatan yang tak menentu. Terkadang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja mereka masih kekurangan ditambah lagi biaya sekolah anak mereka. Melihat kondisi yang seperti ini tak lantas membuat Bu Katni tinggal diam. Sebisa mungkin beliau membantu meringankan beban keluarga dengan bekerja sebagai buruh tani.


Sekitar bulan Juni 2014 ini Bu Katni mulai merasakan nyeri pada paha sebelah kanan. Awalnya hanya benjolan kecil sebesar bisul,tapi lama-lama bertambah besar.  Dan itupun masih beliau rahasiakan sakit itu dan tetap bekerja seperti biasanya, tak mau menambah beban keluarga, begitu pikirnya. Tapi lama-kelamaan benjolan itu semakin besar dan semakin sakit. Keluargapun akhirnya mengetahui ,lagi-lagi  Bu Katni masih berusaha menutupi dengan berbohong bahwa bengkak di paha itu karena terbentur meja. Keluarga Bu Katni tetap saja khawatir dan membawa Bu Katni ke sebuah RS swasta di Wonogiri.Di RS.Marga Husada inilah Bu Katni diminta segera menjalani tindakan operasi. Mendekati lebaran tim Dokter memutuskan segera melakukan tindakan operasi. Diagnosa sementara waktu itu tumor di paha kanan.
Pasca operasi keadaan sempat membaik. Tapi keadaan tak bertahan lama ,dua bulan kemudian benjolan itu muncul lagi dengan kondisi lebih besar dari sebelumnya bahkan bisa dibilang pertumbuhan benjolan itu begitu cepat. Tentu saja lebih terasa sakit. Melihat kondisi yang mengkhawatirkan seperti ini , pihak RS Marga Husada segera merujuk ke RSD.Moewardi Solo. Di RS inipun Dokter juga segera mengambil tindakan cepat dengan melakukan serangkaian test pendukung untuk operasi. Sebelum operasi dilakukan Dokter sempat memberikan gambaran kemungkinan besar setelah dilakukan operasi Bu Katni bisa jadi mengalami kelumpuhan. Bu Katni pun menyanggupi dengan segala macam resikonya. Baginya yang terpenting adalah bisa sembuh dan tak merasakan sakit lagi.

Dua hari menjalani rawat inap di RSD.Moewardi Solo Bu Katni langsung menjalani operasi pengangkatan benjolan sekaligus untuk menjalani PA. Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan setelah operasi Bu Katni masih bisa menggerakkan kakinya, bahkan masih bisa berjalan kembali. Tersirat raut wajah lega saat mengetahui kakinya masih bisa berfungsi kembali. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama saat Dokter membacakan hasil PA. Hasilnya sangat mengejutkan. Pasien menderita Pleomorphic Rhabdomyosarcoma, penyakit kanker ganas yang menyerang jaringan lunak seperti otot dan biasanya menyerang di bagian leher, kaki, paha. Kebetulan Bu Katni menderita penyakit ini dan menyerang di paha bagian kanan.
Permasalahan tak cukup sampai disini saja, 10 hari pasca operasi muncul masalah baru. Luka operasi tak bisa mengering, terjadi pembengkakan bahkan jahitan operasi mulai lepas dengan sendirinya. Belakang diketahui penyebabnya adalah terjadinya penumpukan cairan nanah dan darah didalam bekas operasi. Tim medis terpaksa membuka seluruh jahitan untuk mengeluarkan semua cairan dan membiarkan luka terbuka. Dokter sempat berfikir keras untuk menentukan tindakan selanjudnya. Untuk dilakukan kemoterapi jika menunggu granulasi akan memakan waktu lama karena lukanya cukup dalam dan lebar,  itu artinya sangat beresiko karena kanker akan menyebar. Kanker ini penyebaranya sangat cepat dan dikhawatirkan akan menyerang organ lainnya. Akhirnya dengan resiko yang lebih ringan diputuskan tetap dilakukan kemoterapi beriringan dengan penyembuhan lukanya. Kemoterapi langsung dilakukan dengan efek yang lebih berat mengingat lukanya. Luar biasa sakit yang akan diderita Bu Katni.

Dokterpun sudah menjelaskan bahwa Bu Katni menderita kanker ganas level 3. Yang lebih luar biasa adalah ketabahan beliau. Tak ada sedikitpun ketakutan ataupun kesedihan terpancar dari wajahnya. Beliau tetap tersenyum lembut, sangat terlihat sekali kalau beliau ikhlas dan menerima keadaannya. Sungguh luar biasa kasih sayang Tuhan pada Bu Katni, semangat hidupnya tinggi dan semangatnya untuk sembuh pun luar biasa. Dengan sabar beliau seakan tak lelah meskipun harus sering bolak-balik kerumah sakit. Jarak puluhan kilo dari rumah menuju rumah sakit,berangkat subuh pulang sampai rumah waktu magrib  tak mengendurkan semangatnya untuk berobat. Dengan berjalan tertatih, langkah agak diseret sesekali beliau menghela nafas pertanda beliau menahan rasa sakitnya.

Sahabat, terkadang kita mengeluh bahkan kadang mengumpat saat kita tersandung dan terjatuh. Lalu lihatlah Bu Katni yang saat ini berjuang mencari kesembuhan, bahkan bukan tak mungkin jika untuk menyelamatkan nyawanya beliau harus kehilangan kakinya. Masih pantaskah kita mengeluh? Bersyukurlah kita masih punya dua kaki yang saat ini masih bisa digunakan untuk berjalan bahkan berlari. Sahabatku, tak ada salahnya sebagai wujud rasa syukurmu kita bantu kesembuhan Bu Katni dengan menyisihkan sedikit rejeki kita agar beliau dapat terus berobat. Ketika sakit itu mahal pastinya kita memilih untuk tetap sehat. Tentunya kita tak ingin jika berada di posisi Bu Katni bukan? Bukankan lebih baik membantu biaya berobat karena kita dalam keadaan sehat daripada kita yang dibantu berobat karena kita dalam keadaan sakit?. Mari ulurkan tangan untuk Bu Katni berjuang untuk kesembuhannya. Mari mulai peduli dengan berbagi.


Salam Tembus Langit.

DONASI UNTUK BU KATNI DAN PASIEN  #SR LAINNYA DAPAT DISALURKAN KE :

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS MS)

MENGABAIKAN SAKIT DEMI MERAWAT CUCU YANG SUDAH YATIM PIATU

TRI PURNOMO APRIANTO


TRI PURNOMO APRIANTO (59  Tahun, syaraf terjepit), beliau adalah warga Dusun Jarum 01/01, Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Sudah hampir 9 bulan ini beliau sakit, keluar masuk RS menjalani rawat inap. Beberapa tahun yang lalu pun beliau sudah sering sakit-sakitan bahkan beberapa kali menjalani operasi diantaranya tyroid dan hernia.
Tapi untuk kali ini beliau merasakan sakit dari bahu sampai kaki. Terasa panas, kesemutan sakit untuk melakukan gerakan apalagi untuk berjalan. Kehidupan Pak Tri sangat kederhana bisa dibilang hanya pas-pasan. Sebelum sakit beliau adalah tulang punggung keluarga. Diusia tuanya beliau belum bisa menikmati masa-masa istirahat seperti kebanyakan orang. Beban ekonomi salah satu penyebabnya. Ya beliau masih harus membesarkan 3 orang cucu yang sudah yatim piatu, masih duduk di bangku SD bahkan yang terkecil masih balita. Untuk mencukupi seluruh anggota keluarga beliau bekerja sebagai kondektur bus dengan pendapatan yang tak menentu. Terlebih lagi perusahaan tempat beliau bekerja hampir mengalami kebangkrutan akibatnya beliau juga tak bisa kerja setiap hari karena armada bus tak bisa di berangkatkan setiap harinya. Sementara istrinya total di rumah mengurus ketiga cucunya yang masih kecil-kecil. Kondisi seperti inilah yang memaksa Pak Tri untuk tetap bekerja dan mengabaikan rasa sakitnya.Hingga akhirnya beliau semakin parah sakitnya dan hanya bisa duduk dan berbaring saja tak bisa melakukan aktivitas apapun.
Selama sakit tanggung jawab keluarga diambil alih oleh salah satu anaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Itupun hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan tak bisa membiayai pengobatan Pak Tri. Hingga akhirnya ada warga yang menghubungi Tim #SRWonogiri. Tim segera melakukan survey, dan ternyata beliaupun tak memiliki kartu jaminan apapun baik yang dari pemerintah maupun mandiri. Melihat kondisinya yang perlu penanganan segera, Tim segera membuatkan BPJS Mandiri dengan perceptan aktivasi atas rekomendasi dari Dinas Sosial agar BPJS langsung aktiv.
Setelah semua rujukan siap, pasien segera dibawa ke RSD. Moewardi Surakarta. Awalnya di rujuk ke poli syaraf mengingat pasien mengalami terapharesis. Tim dokter pun bergerak cepat dengan melakukan tindakan MRI, bahkan dokter membantu prosesnya dengan mengurus semua protokolnya dan pasien tinggal menunggu panggilan saja jika semua protokol siap. Hasil MRI terbaca ada syaraf yang tertekan tulang leher belakang. Tim Dokter poli syaraf pun segera merujuk ke Poli Bedah Orthopedi. Sama seperti diagnosa Tim Dokter poli Syaraf, Tim Dokter Poli Bedah Orthopedi juga mendignosa adanya syaraf yang terjepit di leher bagian belakang. Salah satu penyebabnya efek kerja berat dan itu sudah berlangsung lama. Benar saja, pekerjaan seorang kondektur Bus memang berat, dan beliau menghiraukan sakitnya demi keluarganya.
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan, Tim Dokter menyarankan segera dilakukan tindakan operasi karena jika terlambat akan mengakibatkan kelumpuhan. Pasie dan keluarga menyetujui, operasi dilakukan dan alhamdulillah lancar. Pasca operasi kondisi pasien menunjukkan ada perkembangan yang cukup bagus. Pasien sudah bisa berjalan pelan tanpa harus menggunakan kursi roda lagi seperti pertama kali ditangani. Untuk tindakan selanjudnya pasien harus menjalani fisioterapi rutin seminggu dua kali di RSD. Moewardi Surakarta untuk melatih otot dan syaraf yang selama ini mengalami gangguan.
Sedekaholic , jarak tempuh dari rumah beliau ke RSD. Moewardi Surakarta 50 km lebih, memerlukan waktu kurang lebih dua jam perjalanan. Sementara beliau harus rutin fisioterapi dua kali dalam seminggu, tentulah membutuhkan biaya akomodasi yang tak sedikit. Pak Tri ingin sembuh, membesarkan ketiga cucu yatim piatu karena kedua anak-anak ini meninggal dunia setahun lalu karena sakit. Kesembuhan Pak Tri, menentukan masa depan anak-anak yatim piatu ini. Harapan Pak Tri adalah harapan seluruh keluarganya. Cucu-cucunya masih butuh biaya sekolah, dan beliau bertanggung jawab untuk itu.
Mari bersama-sama bergerak untuk bisa membantu kesembuhan Pak Tri. Sisihkan sedikit rejeki, agar beliau segera sembuh dan bisa merawat serta membesarkan cucu-cucunya. Membantu Pak Tri sama saja menyelamatkan hidup cucu-cucunya. Mari berbagi, mari peduli.


Salam Tembus Langit...!!!

DONASIUNTUK PAK TRI DAN PASIEN #SR LAINNYA DAPAT DISALURKAN KE:

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS MS)

14 TAHUN TERGOLEK LEMAH KARENA KELUMPUHAN SEJAK BAYI

WAHYU ERMAWATI

WAHYU ERMAWATI (14 Tahun) adalah  warga Dusun Sumber ,RT 03 RW 01, Desa Sukamangu, Kecamatan  Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Wahyu adalah gadis yang cantik ,tapi malangnya dia mengalami kelumpuhan sejak dia masih bayi. Disaat anak-anak seusianya sudah bisa mengenyam pendidikan di SMP maka dia hanya bisa tergolek lemah di  tempat tidurnya. Wahyu juga seorang anak yatim sejak ayahnya meninggal sekitar 1,5 tahun yang lalu karena kecalakaan. Dia tinggal bersama ibunya ,Narti yang kesehariannya bekerja sebagai seorang petani. Wahyu juga memiliki seorang adik laki-laki yang saat ini masih duduk di kelas 4 SD.
Kesehariannya Wahyu dirawat dengan kasih sayang oleh ibunya,Bu Narti. Dengan penuh Kasih sayang ibu ini merawat Wahyu, memandikan, menyuapi bahkan menggendong kemanapun dia pergi. Tak jarang ibu ini menangis saat beliau menggendong Wahyu keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang yang memandang aneh dengan kondisi Wahyu. Belum lagi jika menghadapi perkataan orang-orang tentang Wahyu yang tentu saja sangat melukai hatinya. Dalam benaknya seperti apapun keadaan anaknya akan tetap dirawat dan diterima sebagai amanah yang dititipkan Tuhan kepadanya. Sungguh luar biasa Ibu yang satu ini. Kesabaran dan kesabaran terlihat jelas dari pancaran wajahnya. Selalu tersenyum di hadapan Wahyu dan dengan lembut selalu mengajak bicara putrinya sekalipun beliau tahu putrinya tak akan bisa menjawab perkataannya.
Awalnya Wahyu adalah balita yang normal, akan tetapi saat berusia 4 bulan mengalami sakit panas, step, bahkan mengalami koma selama 14 hari dan dirawat disebuah RS di PONOROGO. Sejak saat itu Wahyu yang sebelum sakit sudah bisa tengkurap dan duduk akhirnya mengalami kelumpuhan akibat kerusakan saraf otak. Pengobatan pun pernah dilakukan dengan rawat jalan dan fisioterapi. Fisioterapi itu sendiri sudah dilakukan sampai Wahyu berusia 7 tahun. Selebihnya pengobatan dilakukan dengan rawat jalan. Memasuki usia 10 tahun  keluarga memutuskan menghentikan pengobatan karena sudah putus asa, tak mengalami perubahan dan tak memiliki biaya lagi. Kini meskipun keluarga ini sudah memiliki Jamkesmas, Ibu Narti tak lagi mampu membiayai pengobatan karna sejak ditinggal alm. Suamianya secara otomatis beliau menjadi tulang punggung keluarga.Bisa dibayangkan betapa bertambah berat beban hidup yang harus ditanggungnya. Semoga saja masih ada dermawan yang bersedia menyisihkan rejekinya untuk meringankan beban Wahyu dan keluarganya. Dan semoga saja keluarga ini senantiasa diberi kesabaran serta kekuatan dalam menjalani hidup.

MENAHAN SAKIT DEMI MENAFKAHI KELUARGA DAN MERAWAT SUAMI YANG JUGA SAKIT

WARMI


Ibu Warmi (48 tahun), adalah warga adalah warga Dusun Sanggrahan RT 02 RW 08, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Sekitar setahun yang lalu menderita sakit tapi belum bisa melakukan pengobatan. Bu Warmi sering mengalami sakit bagian perut dan mengalami pendarahan. Beliau adalah tulang punggung keluarga karena suaminya, Bapak Sukijo tak bisa mencari nafkah karena menderita sakit juga karena stroke. Sementara mereka masih harus membiayai sekolah kedua anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Kondisi seperti inilah yang membuat Bu Warmi tak menghiraukan sakitnya karena lebih mementingkan kebutuhan keluarganya. Beliau sekeluargapun tak ada yang memiliki jaminan kesehatan baik yang dari pemerintah maupun yang mandiri.
Lama kelamaan pada akhirnya Bu Warmi tak kuat juga menahan sakitnya. Sekitar 6 bulan yang lalu beliau  benar-benar drop dan harus dilarikan ke RS. Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Bu Warmi didiagnosa menderita kistoma ovari. Dokter menyarankan untu dilakukan operasi pengangkatan kistanya. Tak memiliki jaminan kesehatan, tak memiliki biaya, membuat beliau pasrah pada keadaannya. Belum lagi masih harus merawat suaminya yang sakit, sementara beliau sendiri juga sakit.
Melihat kondisi yang seperti itu salah seorang tetangga menghubungi tim #SR. Tim segera melakukan survey dan melihat kondisi rumah serta kondisi keluarganya memang selayaknya dibantu. Langkah pertama segera dibuatkan BPJS, dan begitu BPJS aktif tak perlu menunggu lama , tim segera membawa beliau ke RSUD Wonogiri. Seperti saran dokter sebelumnya, tetap harus dilakukan operasi. Pihak RSUD pun segera menjadwalkan operasi akan dilakukan awal bulan Januari. Dan untuk sementara waktu sebelum dilakukan pengangkatan, beliau diberikan resep anti nyeri.
Harapan Bu Warmi bisa kembali sehat seperti sedia kala, bisa merawat suaminya yang sakit, bisa mengurus keluarganya dan terutama bisa mencari nafkah kembali. Sedekaholic ...masa depan keluarga Bu Warmi untuk saat ini tergantung pada beliau. Bagaimana kelangsungan hidup keluarga itu jika Bu Warmi terus-terusan sakit. Bagaimana masa depan kedua putranya yang saat ini masih sekolah. Sementara keduaa putranya pun saat ini rela kerja paruh waktu untuk sekedar mencari uang saku. Merekapun berharap bisa menyelesaikan pendidikan dan bisa segera bekerja meringan kan beban sang Ibu.
Sedekaholic ,berkat uluran tangan anda Bu Warmi bisa menjalani operasi pengangkatan kista. Hasil PA juga cukup melegakan tak ditemukan keganasan.Kista seberat 2 kg lebih berhasil diangkat dari rahimnya. Setelah 5 bulan pendampingan akhirnya pada chek up terakhir dokter menyatakan bahwa Bu Warmi sudah sembuh, tak perlu berobat lagi dan disarankan untuk chek up jika mengalami keluhan saja.
Puji syukur kehadirat Allah serta ucapan terima kasih beliau haturkan berkat Sedekah Rombongan yang selama ini menyampaikan amanah dari kedermawanan sedekaholic, akhirnya beliau bisa sembuh. Harapan beliau tentu saja bisa mengurus keluarga kembali dan merawat suaminya yang selama ini sakit. Sedekaholic...sedikit kami sampaikan, bahwa Bu  Warmi sempat menunda operasinya dua kali karena pada saat dijadwalkan operasi suami beliau masuk RS. Lagi-lagi demi merawat suaminya ,beliau rela menahan sakit yang dideritanya.
Akhir kata, kami Tim ikut merasa lega, satu tugas kami sudah selesai. Doa kami Bu Warmi dan keluarga tetap di beri nikmat kesehatan, dan dapat menata hidup keluarganya kembali.

Salam Tembus Langit....

DONASI UNTUK  PASIEN #SR  DAPAT DISALURKAN KE :

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS M.S)

DUA KALI SEMINGGU JALANI CUCI DARAH KARENA GAGAL GINJAL

TIJO KARTOMO


TIJO KARTOMO(62  Tahun, Gagal Ginjal) , warga dari Dusun Nawangan 01/04, Desa  Sembukan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Beliau menderita gagal ginjal sekitar 8 tahun yang lalu. Awalnya baru satu ginjal yang mengalami masalah, tapi semua dihiraukan saja. Keterbatasan ekonomi yang jadi salah satu penyebabnya. Dengan penghasilan yang  tidak menentu sebagai buruh tani, yang jangankan sampai membiayai pengobatan , sekedar untuk makan sehari- hari saja pas-pasan. Bahkan sudah 3 tahun ini beliau tak lagi bekerja dan penghidupan ditanggung oleh salah satu anaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik.  Sementara ada lagi salah satu anaknya yang awalnya jadi harapan untuk membantu pengobatannya pun saat ini juga tergolek lemah karena sakit jantung yang saat ini sedang di deritanya. Keadaan inilah yang membuatnya pasrah pada keadaan.
Sekitar 3 bulan yang lalu , setelah bertahun-tahun membiarkan rasa sakitnya, beliau tumbang juga. Atas bantuan saudara dan warga sekitar, beliau dibawa ke RS. MARGA HUSADA. Hasilnya cukup mengejutkan. Beliau mengalami gagal ginjal, kedua ginjalnya tak lagi berfungsi dan di sarankan menjalani Hemodialisa( cuci darah) seminggu sekali. Pak Tijo juga didiagnosa menderita Diabetes Militus.
Pak Tijo sempat mengikuti anjuran dokter menjalani cuci darah seminggu sekali sebanyak 5 kali. Tapi sekarang sudah terhenti  4 kali dikarenakan tak ada biaya berobat. Beliau memang sudah memiliki Jamkesmas, tapi kendala utama untuk beliau adalah biaya akomodasi ke RS. Jarak tempuh dari rumah beliau ke RS hampir 30 an km. Perlu menyewa mobil jika ingin ke RS mengingat tak ada kendaraan umum yang sampai ke tempat beliau. Seandainya adapun, melihat kondisi beliau yang saat ini lemah dan mengalami pembengkakan ,beliau tak akan mampu mengendarai kendaraan umum.
Tim #SR mendapat laporan, dan saat itu juga melakukan survey menuju kediaman Pak Tijo. Benar saja, kondisinya sangat memprihatinkan. Dengan pandangan yang mulai kabur, perut dan kaki mulai membengkak. Pak Tijo harus segera mendapatkan penanganan kembali, melanjudkan cuci darah lagi.
Karena sempat terhenti cuci darah untuk beberapa kali sudah pasti membuat kondisi beliau semakin buruk. Bahkan sekarang dokter menganjurkan untuk menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu secara rutin.Kini berkat bantuan para sedekaholic lewat Sedekah Rombongan, beliau bisa menjalani cuci darah lagi secara rutin.
Sedekaholic ...harapan Pak Tijo tidaklah berlebihan,  hanya ingin keadaannya lebih baik, bisa rutin menjalani cuci darah. Karena sekali saja terlewat beliau akan merasa lemas, mual dan badan membengkak. Cuci darah mungkin tak kan bisa menyembuhkan sakitnya, tapi setidaknya bisa mengurangi penderitaannya. Semoga saja uluran tangan dan rejeki para sedekaholic bisa mewujudkan harapan Pak Tijo.


Salam Tembus Langit...!!!

DONASI UNTUK PAK TIJO DAN PASIEN #SR LAINNYA DAPAT DISALURKAN KE :

CP KOORDINATOR #SRWONOGIRI
085329907666/085712612777
(NONIS M.S)








RELA MINUM SETENGAH DOSIS OBAT ASAL TIAP HARI BISA MINUM OBAT

SUYANTO


Bapak Suyanto (63 tahun), warga Dusun Mirihan RT 01/RW 03 , Desa Tanjungsari, Kecamatan Jatisrono. Sudah dua tahun terakhir ini beliau menderita sakit jantung. Awalnya pasien sering merasakan nyeri di dadanya. Berobat ke dokter umum terdekat dan beberapa kali menjalani rawat inap di RSUD. Tanpa memiliki jaminan kesehatan apapun Pak Suyanto berobat sebulan dua kali. Apa yang beliau punya dijual untuk biaya berobat. Dirumahnya nyaris tak ada barang berharga lagi karena sudah habis terjual. Bersama istrinya, Ibu Kasmi ,anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP serta ayahnya yang sudah renta Pak Suyanto tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Sementara putra sulungnya selepas lulus SMA memutuskan bekerja sebagai buruh pabrik demi menopang kehidupan orang tua serta membiayai sekolah adiknya.
Sehari – hari beliau terbaring lemah di kasur tipis yang diletakkan diatas ubin. Nafasnya terengah- engah saat beliau bicara. Beliau mengalami sesak nafas karena penyakit jantung yang dideritanya. Satu –satunya yang bisa meringankan penderitaannya hanyalah minum secara rutin obat yang di berikan oleh dokter. Begitu tergantungnya beliau akan obat – obatan itu hingga di saat benar- benar tak memiliki uang beliau rela minum setengah dari takaran obat yang disarankan. Tujuannya tak lain agar obat lebih awet atau tak cepat habis.
Berkali – kali beliau disarankan oleh dokter untuk menjalani rawat inap, tapi lagi-lagi karena ketiadaan biaya Pak Suyanto rela menahan sakitnya. Hingga akhirnya salah seorang perangkat desa setempat meminta bantuan pada Tim SR. Tim segera melakukan survey dan memutuskan membuatkan BPJS serta membayar premi per bulannya karena untuk membayar premi per bulan beliau memang tak mampu. Sementara  itu beliau juga didaftarkan jadi peserta Jamkesmas untuk tahun ini. Artinya begitu kartu Jamkesmas jadi BPJS Mandiri akan non aktif dengan sendirinya dan bisa meringankan beban Pak Suyanto sekeluarga.
Dan benar saja, setelah memiliki kartu BPJS beliau bisa berobat rutin, bisa minum obat dengan dosis penuh tanpa harus mengurangi setengahnya.Pak Suyanto yang pertama kali kita temui dahulu terbaring lemas, sesak nafas serta mengalami pembengkakan di perutnya, kondisinya jauh lebih baik . Sekarang beliau sudah bisa berjalan keluar rumah biarpun masih tertatih. Nafas mulai berkurang sesaknya, dan pembengkakan di perutnya juga sudah banyak berkurang.

Semoga saja setelah mendapat pendampingan dalam mendapatkan pengobatan dari Sedekah Rombongan Pak Suyanto bisa pulih seperti sedia kala, dan dapat menopang kehidupan keluarganya lagi. 
Salam Tembus Langit.

5 TAHUN MENDERITA MEGACOLON, TONI SEMPAT DIKIRA KEKURANGAN GIZI

TONI SISWANTO

Toni Siswanto (10 Tahun, Megacolon) siswa kelas 3 SD ini putra keempat dari lima bersaudara pasangan Bapak Senen dan Ibu Bimani. Beralamat di Dusu Jetis 04/02, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Kehidupan mereka jauh dari kekurangan. Pak Senen sehari-hari hanyalah seorang buruh serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Menghidupi lima orang anak dan juga ibunya yang sudah renta. Mereka tinggal di sebuah rumah yang terlihat kumuh berdinding anyaman bambu yang sudah banyak lobangnya, sebagian berdinding batu bata yang sudah usang dimakan usia. Pintu terbuat dari kayu usang yang mulai rapuh, atap tak jauh berbeda banyak genting yang pecah. Membiayai  sekolah  empat orang anak dengan penghasilan pas-pasan, bahkan selain Toni masih ada lagi anaknya yang saat ini juga sakit. Anak sulungnya yang diharapkan bisa meringankan beban keluarga justru menderita gangguan jiwa. Sama seperti Toni pada , karena ketiadaan biaya sakit itu dibiarkan saja.
Toni sendiri sebenarnya  sudah mulai merasakan sakit saat dia berumur 5 tahun. Keadaan ekonomi yang kekurangan membuat keluarga membiarkan sakit itu dan berharap akan sembuh dengan sendirinya, mengingat terkadang sakit itu kadang timbul dan hilang dengan sendirinya. Hingga akhirnya penyakit itu tak kunjung sembuh, tubuh Toni semakin kurus, perut semakin membesar.  Akhirnya ada tetangga yang menyarankan membawa Toni ke RS. Mereka awalnya menolak karena mereka kebingungan soal biaya. Atas informasi tetangganya itu juga Tim #SRWonogiri diminta tolong untuk membantu Toni. Tim memang baru menerima laporan saat Toni sudah dirawat di RS. Tapi biarpun agak terlambat Tim segera bergerak dan memutuskan menghandle kasus Toni
Awalnya Toni dicurigai menderita gizi buruk. Tapi kecurigaan itu berubah saat diketahui bahwa Toni mengalami masalah BAB sejak kecil, hanya saja tak begitu di hiraukan. Kepastian itu baru  muncul saat Toni di bawa berobat ke RSUD WONOGIRI. Dari hasil rongent , USG dan Lopograpi diketahui bahwa Toni menderita Megacolon. Tindakan operasi segera diagendakan , tiga hari setelah menjalani rawat inap.
Tanggal 4 Februari 2016, operasi pertama dilakukan di IBS RSUD WONOGIRI untuk pemotongan usus dan pembuatan colostomi. Enam hari kemudian tepatnya tanggal 10 Februari Toni diperbolehkan pulang. Melihat kondisi rumah Toni sungguh membuat hati miris. Dalam keadaan pulang dari RS pasca menjalani operasi, Toni hanya tidur diatas tempat tidur besi tua, hanya beralas tikar yang sudah sobek sana sini, tanpa kasur karena mereka memang tak punya itu. Hanya ada beberapa bantal kumal dan lusuh. Akhirnya Tim membelikan kasur, dan perlengkapan tidur lainnya. Sementara untuk medikasi dirumah demi merawat luka operasinya, Tim mendatangkan perawat untuk melakukan medikasi sampai luka operasi dinyatakan sembuh.
Untuk tindakan selanjudnya masih akan ada operasi lanjutan. Penutupan stoma dan penyambungan usus. Hanya saja untuk operasi lanjutan tak bisa di lakukan di RSUD. WONOGIRI dan harus dirujuk ke RSD. Moewardi Surakarta. Sementara untuk sekitar 6 bulan kedepan sebelum operasi lanjutan, Toni harus menjalani chek up rutin di RSUD WONOGIRI.
Sedekaholic ... Toni berasal dari keluarga dhuafa, yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Harapan Toni dan keluarga tak lain kesembuhan Toni. Ditengah himpitan ekonomi dengan segala keterbatasannya keluarga Toni berjuang demi kesembuhan Toni. Toni ingin bisa normal seperti anak seusianya, ingin kembali bermain dan bersekolah bersama saudara kembarnya. Mari berbagi meringankan beban keluarga ini. Bantu kesembuhan Toni, karena  masa depannya masih menanti. Membantu kesembuhan Toni sama saja menyelamatkan salah satu generasi penerus bangsa. Masihkan kita mau menutup mata untuk keluarga Toni, keluarga dhuafa?  Sisihkan sedikit rejeki untuk Toni, saatnya kita peduli.

Salam Tembus Langit...


Kamis, 03 Maret 2016

FARID ABDULLAH



Bayi Yang Terlahir Dengan Beberapa Kelainan
Bagi sepasang suami istri, kehadiran seorang anak tentulah sangat dinantilkan, apalagi ini adalah anak yang pertama. Sama seperti yang sedang dialami oleh pasangan muda ini. Suharwin (29 tahun) dan istrinya Yesi Setiani (25 tahun) begitu bahagia saat mengetahui bakal dikaruniai seorang anak. Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, tanggal 14 Januari 2016 lahirlah putra pertama mereka. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, semua berubah menjadi kesedihan saat mengetahui kondisi putra mereka. Bayi yang diberi nama Farid Abdullah ini ternyata  memiliki beberapa kelainan, jauh seperti harapan mereka yang awalnya berharap putranya lahir dengan kondisi sempurna.

Ya ...Farid terlahir tak seperti anak normal. Terlahir dalam keadaan atresia ani atau tidak memiliki anus, tidak memiliki lubang telinga dan tidak memiliki daun telinga sebelah kiri serta jari tangan masing-masing hanya 4 jari, telapak tangan bengkok serta adanya kelainan jantung. Sungguh sebuah ujian yang tak ringan bagi keluarga Farid. Ayahnya hanyalah seorang terapis keliling yang hanya bekerja jika ada panggilan saja. Ibunya memilih jadi ibu rumah tangga. Farid tergolong keluarga yang sangat sederhana sekali, bahkan mereka masih menumpang di rumah kakek neneknya. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang beralamat di Dusun Tahunan 02/06, Desa Sambirejo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

Karena kondisi ekonomi yang seperti itulah, selama dalam kandungan Farid kurang mendapat perawatan pada masa kehamilan. Perkembangannya kurang terpantau, hanya diperiksakan di bidan dengan fasilitas minim dan hanya sekali saja di periksakan ke dokter kandungan. Itupun saat usia kandungan baru menginjak usia 5 bulan jadi belum nampak dengan jelas.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab ketidak normalan yang diderita oleh Farid, karena sampai saat ini Farid belum dikonsultasikan lebih lanjut. Farid yang lahir secara normal di bidan setempat sempat di rujuk ke RSD. Moewardi Surakarta untuk menjalani operasi pembuatan stoma sebagai pengganti anus untuk sementara. Di RS pun pasien hanya 4 hari meskipun seharusnya Farid harus tetap di rawat, tapi karena keterbatasan biaya terpaksa pulang paksa. Saat ini untuk sementara Farid dirawat di rumah dengan pengawasan bidan setempat. 

Satu per satu masalah muncul silih berganti, dan yang membuat mereka kembali terpukul adalah saat mereka di beri tahu bahwa kemungkinan besar Farid menderita kelainan jantung. Ada 4 kebocoran jantung yang harus ditangani di Jogja atau Jakarta. Bayi mungil itu harus menjalani operasi kebocoran jantung.

Saat ini pihak keluarga sedang mengusahakan pembuatan BPJS, tapi tetap saja mereka masih berfikir tentang biaya akomodasi ke RS karena jarak rumah mereka ke RS sangatlah jauh. Belum lagi untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Sedekahholic....Farid membutuhkan uluran tangan anda. Keluarga Farid tak mengharap kesempurnaan untuk Farid, mereka cukup menerima dengan ikhlas atas ketidak sempurnaan Farid. Tapi bukan berarti mereka berpasrah diri dan menyerah untuk Farid. Untuk memiliki anus Farid masih harus menjalani dua kali operasi lagi. Operasi pembuatan anus, dan operasi penyambungsn usus sekaligus penutupan stoma. Belum lagi untuk operasi jantungnya. Masalah yang berat untuk orang tua Farid yang kebetulan memang baru membina rumah tangga dalam hal ini mereka belum mapan secara ekonomi. Mereka hanya ingin sedikit meringankan dan mengurangi penderitaan Farid. Mereka menyadari  kesempurnaan hanya milik Allah. 

Sedekaholic ... Farid hanyalah bayi mungil dalam ketidakberdayaan , kondisinya  lemah.  Baru beberapa bulan dia menghirup udara di dunia  ini. Diapun pasti ingin lebih lama lagi berada dalam pelukan kedua orang tuanya di dunia. Berapapun uluran yang anda berikan akan memperpanjang hirupan nafasnya. Yakinlah tak ada yang sia-sia untuk membantu kesembuhan Farid, yakinlah Allah memberi kelebihan pada setiap kekurangan yang dimiliki Farid. Farid berhak mendapatkan kehidupan di balik ketidak sempurnaanya. Dia berhak mendapatkan kehidupn seperti anak-anak normal lainnya.
Kita punya dua telinga...dengarkan rintihan tangisan bayi yang hanya mempunyai satu telinga. Kita yang leluasa bernafas...coba rasakan sesaknya dia bernafas. Kita yang punya dua tangan sempurna, cobalah genggam kedua tangan mungilnya yang tak sempurna. Apakah kita ingin menutup mata  melihat keadaan bayi seperti ini? Buka mata hati, buka nurani dan mari berbagi. Sisihkan rejeki anda saatnya kita peduli. Semoga anda adalah orang-orang pilihan Tuhan untuk menjadi perantara   untuk menyampaikan  pertolonganNya.

Salam Tembus Langit...!!! 

Donasi Buat Farid
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan

Konfirmasi: 085329907666 (Nonis MS)

Selasa, 29 Desember 2015

Empat Dokter Spesialis Yang Menangani

LUTFHI ARYA FIRDAUS


LUTFHI ARYA FIRDAUS (11 bulan), terlahir pada tanggal 18 Januari 2015. Putra pertama pasangan Bapak Anton Sujarwo  dan Ibu Siti Aisyah ini dilihat secara sepintas memang seperti anak yang tak normal. Dengan BB yang hanya 5 KG, jelaslah bahwa perkembangannya tak normal. Lutfhi dan orang tuanya saat ini masih tinggal menumpang dirumah kakek dan neneknya, tepatnya di Dusun Pancuran 01/06, Desa Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Lutfhi memang mengalami masalah kesehatan sejak lahir. Terlahir dalam keadaan terlambat satu minggu dari jadwal kelahiran membuat bayi ini harus dilahirkan lewat proses dipacu, karena terlambat beberapa menit saja mungkin nyawa Lutfhi tak terselamatkan. Lahir di RS. PKU MUHAMMADIYAH WONOGIRI Lutfhi terlahir dalam keadaan tak bisa menangis untuk beberapa waktu karena terlanjur minum air ketuban ibunya. Untuk menyelamatkan nyawanya, Lutfhi segera dirawat di inkubator  dan dipasang beberapa alat bantu, baik alat bantu pernapasan ataupun alat bantu makanan. Selama 5 hari di inkubator Lutfhi menjalani perawatan dan fisiotherapi agar bisa menyusu tanpa alat bantu selang. Dinilai sudah sehat Lutfhi akhirnya diperbolehkan pulang.

Masalah mulai muncul saat Lutfhi baru berusia satu minggu. Awalnya mulai ditemukan bercak warna merah di telapak kaki seperti keloid. Tapi lama kelamaan tumbuh lagi dibeberapa tempat. Lutfhi sempat dibawa ke dokter dan dari penjelasan dokter waktu itu menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia bercak merah itu bakal hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata keadaan tak seperti itu adanya, semakin bertambah usia becak –bercak di kulit itu semakin banyak bahkan justru berbentuk benjolan seperti daging tumbuh. Bukan hanya itu saja, Lutfhi juga sering sakit, panas, batuk, pilek, tak ada hentinya. Usia 3 bulan Lutfhi dibawa ke salah satu Dokter specialis anak di Wonogiri bahkan sempat dirujuk untuk dirawat di RSUD WONOGIRI. Analisa sementara waktu itu Lutfhi mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru. Tak hanya itu saja Lutfhi dikhawatirkan menderita kanker kulit. Untuk memastikan kondisinya pihak RS menyarankan untuk melanjudkan pengobatan ke RS yang lebih lengkap tim dokter ahlinya, dalam hal ini RSD. Moewardi lah yang ditunjuk. Tapi karena ketiadaan biaya, keluarganya hanya pasrah. Untuk sekedar berobat di RSUD WONOGIRI saja keluarga harus menunggu punya uang dulu, terbayang dalam pikiran mereka  mereka berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan ke Solo.

Tak mendapat pengobatan selama kurang lebih 8 bulan sudah pasti membuat kondisi Lutfhi semakin buruk. Lemah, dan menderita gizi buruk. Lutfhi sebenarnya sudah memiliki BPJS, tapi  untuk mengangsur BPJS sebesar Rp.25.500,- saja mereka tak mampu. Tim SR mendapatkan informasi soal Lutfhi dari salah satu bidan desa dan petugas TKSK Selogiri. Benar saja, pada saat dilakukan survey kami mendapati kondisi Lutfhi sangat memprihatinkan. Lemah, kurus, tak ada senyum sama sekali diwajah mungilnya. Angsuran BPJS pun nunggak 5 bulan sampai membuat kartu tak bisa dipakai karena sempat dinonaktifkan. Kamipun segera mengurus pengaktivan kembali BPJS nya dengan melunasi semua tunggakan termasuk membayar premi bulan berikutnya.

Setelah semua berkas lengkap kami segera membawa Lutfhi berobat kembali ke RSUD WONOGIRI. Pengobatan pertama setelah sempat terhenti selama 8 bulan. Melihat kondisinya pihak RSUD WONOGIRI segera merujuk ke RSD.MOEWARDI SURAKARTA. Kami pun bergerak membawa Lutfhi ke RSD.MOEWARDI. Tak berbeda dengan RS sebelumnya, pihak RSD.MOEWARDI segera ambil tindakan cepat. Hari itu juga Lutfhi langsung  diminta menjalani rawat inap. Beberapa test langsung dilakukan karena Lutfhi dicurigai menderita beberapa penyakit. Beberapa dokter specialist juga ikut terlibat dalam penanganan Lutfhi. Mulai dokter anak, hematologi, paru, jantung, urologi dan syaraf ikut melakukan pemeriksaan. Diagnosa awal Lutfhi menderita hemangioma kapiler,infeksi paru-paru, kelainan jantung, microtestis, bahkan curiga ke arah microcepalus mengingat ukuran kepalanya yang kurang untuk anak seusianya. Test darah, USG, Rongent, EKG, bahkan CT Scan dijalani saat rawat inap selam 18 hari. Hasilnya Lutfhi hanya menderita hemangioma kapiler itupun tak begitu membahayakan dan kelainan jantung. Sementara untuk paru-paru dinyatakan tak ada masalah, masalah pernapsan yang sebenarnya justru disebabkan karena kelainan jantungnya. Mikrocepalus juga tak ditemukan karena dari hasil CT Scan tidak ditemukan kelainan hanya karena faktor kurangnya BB saja.  Akan tetapi ada kecurigaan yang cukup mencengangkan. Lutfhi dicurigai menderita kelainan kromosum yang memungkinkan dia mengidap satu diantara syndrom 9. Dan untuk mengetahui kepastian sakitnya Lutfhi disarankan menjalani test , hanya saja biaya test tak murah dan tak tercover BPJS. Bahkan test hanya bisa dilakukan di Jakarta. Sementara tanpa kepastian hasil test tim dokter tak bisa mengambil langkah pasti untuk pengobatan selanjutnya. Sementara ini  Lutfhi menjalani pengobatan rawat jalan dengan diberi obat jantung sambil tetap menjalani observasi dan evaluasi. Untuk msalah kelainan kromosum ini Lutfhi ditangani oleh dokter endokrin anak. Itu artinya saat ini Lutfhi ditangani 4 dokter spesialis, yaitu dokter specialis anak, jantung, hematologi dan endokrin anak.

Semoga saja setelah diketahui penyakit yang sebenarnya Lutfhi segera mendapatkan penanganan yang tepat. Sedekaholic ...Lutfhi membutuhkan uluran tangan kita untuk kesembuhannya. Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan  sangat kesulitan membiayai pengobatan Lutfhi. Biaya berobat ke Solo juga tidaklah sedikit. Apalagi biaya menjalani test ke Jakarta sudah pasti akan membutuhkan banyak memakan biaya, karena bagaimanapun mereka membutuhkan biaya untuk keseharian selama mereka di Jakarta. Belum lagi susu yang dikonsumsi Lutfhi pun khusus. Kedua orang tua Lutfhi terpaksa harus bekerja semua demi membiayai hidup, sementara Lutfhi diasuh neneknya di rumah. Belum lagi kakek Lutfhi saat ini juga sedang menderita stroke, mau tak mau beban orang tua Lutfhi pun jadi bertambah. Tak heran, untuk membayar premi BPJS per bulan pun mereka kesulitan.

Masa depan Lutfhi masih panjang, disaat anak seusianya sudah bisa belajar berjalan, dia hanya berbaring lemah karena kondisinya. Keterlambatan dalam tumbuh kembangnya karena dipengaruhi oleh sakitnya. Semoga denganpengobatan yang akan dijalaninya nanti Lutfhi mendapat kesembuhan dan bisa normal seperti anak seusianya.
Salam Tembus Langit....

Donasi Buat Lutfhi
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan

Kurir: 085329907666 (Nonis MS)

Kamis, 05 November 2015

Bayu Yulianto

BAYU, HOW ARE YOU ?

Bayu Yulianto, dia seorang pemuda berusia 20 tahun yang bertempat tinggal di Dusun Tempel, Desa Kayulaka, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri. Saat menangani kasusnya waktunya hampir bersamaan dengan Bu Tarni, hanya selang dua hari saja.

Informasi soal Bayu kami dapatkan dari salah seorang teman yang saat itu justru sedang merantau di Jakarta. Dan untuk memastikan kebenaran info itu kami segera melakukan survey. Info itu ternyata benar. Dia anak yatim piatu yang tinggal berdua saja dengan neneknya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Kondisinya juga sangat memprihatinkan. Tak bisa berjalan karena ada luka di bekas operasinya. Bayu mengalami kecelakaan motor sekitar tahun 2011 dan menjalani operasi pemasangan pen di paha sebelah kiri. Operasi dilakukan di salah satu RS swasta di Wonogiri. Tapi beberapa bulan kemudian ada masalah dengan kakinya. Terasa sakit dan mulai mengeluarkan darah disertai cairan nanah. Tim dokter sempat menyarankan dilakukan oprsi ulang. Tapi karena ketiadaan biaya operasi urung dilakukan. Waktu itu dia tak memiliki kartu jaminan kesehatan. Jadi semua biaya secara umum itupun atas biaya swadaya masyarakat sekitar. Jangankan untuk membiayai operasi, untuk makan sehari-hari saja mengandalkan belas kasihan tetangga. Secara bergantian warga sekitar memberi makanan pada Bayu  dan neneknya.

Kondisi yang seperti itulah yang membuat Bayu mengurungkan niatnya melakukan operasi lagi. Dia merawat lukanya sendiri di rumah, sesekali jika ada rejeki dibawa ke Puskesmas. Keadaan seperti itu berlangsung kurang lebih 1,5 tahun. Itu artinya selama itu luka mulai mengalami pembusukan, mengeluarkan darah dan nanah.

Seperti biasa kami segera bergerak cepat, membawa Bayu ke RS. Ortopedi Solo pada keesokan harinya. Di RS ini segera dilakukan rongent untuk melihat kondisi paha kirinya. Hasilnya diluar dugaan kami. Terbaca dengan jelas bahwa pen melengkung, bahkan skrub patah. Patahan skrub itu yang setengah tertancap di dalam tulang, setengahnya lagi terlepas menusuk ke dalam daging. Skrub yang tertinggal di dalam daging itulah yang menyebabkan infeksi sampai mengeluarkan darah dan nanah setiap harinya. Dokter segera ambil tindakan operasi. Dua hari kemudian operasi dilakukan. Operasi pertama untuk mengambil pen dan membersihkan tulang-tulang mati. Sementara dalam kondisi infeksi dalam paha seperti itu tak mungkin dipasang pen dalam lagi maka dokter memutuskan memasang pen luar. Maka opersi lanjutan adalah pemasangan pen luar.

Pasca opersi pemasangan pen luar sambil menunggu penyembuhan infeksi dipahanya, Bayu menjalani fisioterapi rutin di RSUD Wonogiri. Selain itu dia sendiri rajin melatih kakinya di rumah. Selama lebih dari 1,5 tahun tak bisa di gerakkan membuat Bayu harus berusaha keras melatih otot kakinya agar mau berfungsi kembali. Kesabaran dan kerja kerasnya membuhkan hasil. Setahun lebih kami mendampingi dia tak sedikitpun dia mengeluh atau kehilangan semangat untuk sembuh. Akhirnya pen luar bisa di lepas dan sekitar 2 bulan yang lalu dokter menyatakan sudah sembuh dan tak perlu melakukan pengobatan lagi.

Dan hari ini secara tak sengaja waktu kami move di RSUD Wonogiri kami bertemu dengan salah satu tetangga Bayu dan mengabarkan bahwa Bayu akan mulai bekerja. Dia bertekat akan bekerja untuk menghidupi keluarga dan merawat neneknya tanpa harus bergantung pada tetangga sekitar seperti dulu. Dia siap jadi tulang punggung nenek yang biarpun beliau sendiri sedang sakit tua tapi tetap sabar merawat Bayu dengan sisa-sisa kekuatannya.Mendengar kabar itu sungguh kami tak bisa menahan air mata karena terharu. Selamat berjuang Bayu, perjuangan hidup yang sesungguhnya sudah menantimu. Raih masa depanmu yang sempat tertunda karena sakitmu. Rawat dan temani nenek di sisa usianya. Kami bangga padamu. Tetap Semangiiiiit...Semangat Menembus Langiiiiit...!!! Buatlah nenekmu bangga...hanya beliau yang kamu punya saat ini, dan yakinlah orang tuamu di syurga pasti tersenyum bangga melihatmu.Keep fight...keep your spirit and...never give up.

Salam Tembus Langit....!!!

Sabtu, 31 Oktober 2015

Bu Tarni

KAKI TAK JADI DIAMPUTASI, KINI BERSUAMI LAGI


Ini kisah tentang Bu Tarni, salah satu pasien dampingan #SR WONOGIRI. Buatku kisahnya cukup menarik. Semua berawal sekitar awal tahun 2014 kami menerima laporan ada warga tak mampu sudah sakit selama bertahun-tahun. Kami segera crosschek dan ternyata benar. Namanya Bu Tarni, seorang janda miskin menderita infeksi kaki selama kurang lebih  9 tahun. Disebuah rumah mungil berdinding anyaman bambu yang sudah banyak lobangnya Bu Tarni tinggal bersama ibunya yang sudah renta. Sementara sakitnya bermula saat kecelakaan motor yang dialaminya sekitar tahun 2005. Luka yang dialaminya mengharuskan beliau untuk menjalani operasi pemasangan pen. Waktu itu tindakan operasi dilakukan di Klaten tempat beliau mengalami kecelakaan itu.

Beberapa hari setelah operasi beliau diperbolehkan pulang. Selang beberapa hari setelah pulang ada masalah dengan luka operasinya. Ada salah satu jahitan di kakinya yang terbuka. Harusnya segera di bawa kembali ke RS sekaligus chek up post op. Tapi ketiadaan biaya menjadi penyebabnya karena mereka sudah tak mampu lagi, apalagi biaya waktu menjalani operasi memakai biaya umum. Luka itu dirawatnya sendiri dengan obat medis sederhana dan berharap luka itu bisa sembuh tanpa harus perawatan dokter. 

Ternyata dugaannya salah. Luka itu bukannya semakin sembuh justru semakin parah dan melebar. Dengan sabar beliau merawat lukanya sendirian karena suaminya meninggal tak lama setelah kecelakaan itu. Semakin beratlah beban hidupnya, luka semakin parah sementara beliau masih harus membesarkan putra semata wayangnya. Dalam keadaan sakit beliau masih tetap bekerja serabutan. Tapi tetap saja semua tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan anaknya rela putus sekolah dan  memilih merantau untuk bekerja. Padahal anaknya pada waktu itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Semua demi membantu kehidupan keluarga.

Pada waktu kita temukan kondisinya sangat memprihatinkan. Luka dikaki sebelah kanan sudah membusuk, terbuka lebar, tulang dan pen terlihat jelas. Darah dan nanah tak selalu keluar. Bahkan untuk mencegah agar cairan itu mengalir, beliau menutupnya dengan tiga buah pembalut wanita. Kanan kiri luka banyak lobang yang mengeluarkan nanah dan darah. Dan untuk lobang-lobang kecil iti beliau menutup dengan kapas yang dipotong kecil-kecil setelah itu baru dibalut dengan perban. Rutinitas membersihkan luka itu sendiri membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam setiap hari selama 9 tahun. Kaki tak bisa ditekuk, kaku. Jangan tanya  lagi seperti apa baunya akibat infeksi luka itu. Bahkan ada salah seorang dokter yang menyarankan untuk di amputasi saja.

Yang lebih menyedihkan lagi keluarga justru menjauh,bahkan para tetangga  seolah jijik. Tak perlu membuang waktu lagi kami memutuskan segera bergerak. Kami memutuskan membawa ke RS. Ortopedi Surakarta. Melihat kondisi separah itu dokter pun tak buang-buang waktu untuk segera dilakukan operasi. Rencananya akan ada dua tahapan operasi. Pertama untuk pelepasan pen dan pembersihan kulit yang terinfeksi. Yang kedua adalah penutupan luka dengan metode penarikan kulit atau penutupan kulit diambilkan dari kulit organ lain. Alhamdulillah berarti tak perlu amputasi.

Dua hari kemudian operasi tahap pertama sukses dilakukan. Dan beberapa hari kemudian pasien diperbolehkan pulang. Tak mau ambil resiko, untuk mengantisipasi kesalahan terdahulu kami memutuskan mencari perawat yang bisa merawat luka post op. Tiap hari perawat itu mendatangi pasien untuk melakukan medikasi. Biaya medikasi dan kebutuhan nutrisi penunjang #SR yang tanggung. Dengan penuh kesabaran medikasi dilakukan selama lebih dari 9 bulan. Hasilnya pun cukup memuaskan. Terjadi granulasi sel baru yang sehat dan dengan sendirinya menutup luka itu. Artinya tak perlu ada operasi tahap kedua yang rencananya untuk menutup luka. Alhamdulillah pengobatan dinyatakan selesai.

Seperti yang sudah-sudah jika pasien sembuh kami akan menghilang dan fokus pada pasien yang baru. Pada suatu hari secara tak sengaja kami bertemu dengan salah satu tetangga terdekatnya. Ternyata mereka masih mengingat kami meskipun hampir setahun tak ketemu. Iseng –iseng aku tanya kabar Bu Tarni . Dan jawabanya sungguh di luar dugaan kami.

“ Bu Tarni sudah menikah lagi mbak setelah 9 tahun menjanda, sekarang tinggal bersama suaminya dan jadi petani. Sudah bisa tandur sama matun (menanam padi dan menyiangi rumput) di sawah.”
Subhanallah ...Allahuakabar... kaki yang dulunya hampir diamputasi, yang jangankan untuk masuk ke dalam lumpur, kondisinya saja dulu hampir mirip kaki yang terbenam dalam lumpur karena pembusukan. Kaki yang dulu tak bisa ditekuk, jalan hatus pakai kruk kini sudah normal kembali. Bu Tarni yang dulu pasrah karena keadaan, yang jangankan punya pendamping lagi, mau bergaul dengan tetangga saja minder karena kondisinya. Tapi sekarang beliau sudah bisa memulai hidup yang baru bersama suami barunya. Seorang lelaki sederhan tapi berhati kaya yang mau menerima segala kekurangan Bu Tarni.

Luar biasa...sungguh indah rencana Tuhan. Selamat buat Bu Tarni, inilah hadiah terindah dari Tuhan atas kesabaran dan keikhlasanmu selama ini. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menaungi keluarga barumu.  Tetap Semangiiiiitt yaaa Bu Tarni...Semangat menembus langiiiiiitt...
Eheeeeem penulisnya kesalip ceritanya...doain yaaa Bu penulis segera bisa menyusul dapat pendamping juga...he he he

Salam Tembus Langit...!!!!

Rabu, 28 Oktober 2015

IBU MISIYEM

TUMOR 45 KG BERHASIL DIANGKAT, SAYANG IBU MISIYEM TAK SELAMAT



Sejak awal kami diberi amanah mendampingi pengobatan Ibu Misiyem kami tahu bahwa tak akan mudah. Semua berawal sekitar dua tahun yang lalu. Ada seorang warga yang megatakan bahwa ada warga tak mampu perlu biaya pengobatan dan  minta bantuan pada  #SR. Tapi ternyata saat kita datangi Bu Misiyem belum mau di handle. Yaaa sudah kamipun tak bisa memaksa. Lalu setahun kemudian melalui perangkat setempat beliau coba dibujuk lagi, hasilnya juga sama nihilnya. Dan lagi-lagi kami tak bisa apa-apa lagi karena itu hak beliau.

Kemudian pada hari Minggu tanggal 18 Oktober kami sempat terkejut bahwa pasien mau dibawa berobat. Sempat ada kelegaan diperasaan kami saat mengetahui hal ini. Tapi kami mendadak terdiam sejenak dan tertegun melihat kondisinya yang sekarang. Lemah, kurus, perut semakin membesar, susah bernafas dan kedua kaki membengkak bahkan terluka. Sempat ada kekhawatiran dalam benak kami. Masih bisakah? Bisa ataupun tidak kami harus segera bergerak cepat.Bismillah niat membaikkan, begitulah niat kami.

Kondisi kritis, harus segera dilakukan penanganan tapi masih terbentur masalah jaminan kesehatan dan administrasi kependudukan. Kami pun tak membuang waktu melacak keberadaan jaminan kesehatan. Alhamdulillah dalam waktu satu setengah hari, kami dibantu beberapa pihak terkait bisa temukan dan semua administrasi lengkap.

23 Oktober 2015 kembali kami sempat dibuat lega dengan adanya pemberitahuan dari pihak RS bahwa akan segera dilakukan tindakan operasi pengangkatan tumor jam 11 siang. Pasien sudah siap bahkan sudah masuk di ruang persiapan operasi Instalansi Bedah Sentral. Tapi ternyata ada pasien yang lebih emergency masuk lewat IGD dengan kondisi lebih kritis dan sempat henti nafas dan harus masuk ke ruang ICU. Kebetulan hari itu semua ruang ICU penuh tinggal satu ruang yang awalnya khusus disediakan untuk Ibu Misiyem. Terpaksa operasi ditunda karena tak mau ambil resiko dengan tidak adanya ruang ICU. Akhirnya mau tak mau  kami harus menandatangani re scedule operasi. Sempat kami tanyakan resikonya jika dilakukan rescedule operasi, apakah membahayakan ataukah tidak. Jawaban tim dokter waktu itu insyaallah tidak terjadi apa-apa karena kalau dilihat dari riwayatnya dengan menahan sakit seperti itu selama  10 tahun lebih, toh sampai sekarang masih bisa bertahan. Ditambah lagi akan ada pengawasan dan pemantauan ketat dari tim dokter.

“ Insyaallah penyakitnya tak terlalu dikhawatirkan. Yang kami khawatirkan adalah pasca operasinya. Kondisi sudah sedemikian rupa, ada beberapa komplikasi. Ginjal ,lever, saluran buang air kecil, bahkan paru-paru dari hasil lab tak bisa terbaca. Kami tak tahu apakah semua tertutup asites ataukah tertutup tumornya. Melihat besarnya massa tumor kami berharap semoga tak terjadi pelengketan ke organ vital yang nantinya akan mempersulit proses operasinya. Untuk itulah kami tak berani ambil resiko jika ruang perawatan  pasca operasi tak tersedia. Dan kami butuh ruang khusus untuk perawatan pasca operasi dengan fasilitas terlengkap. Kami sudah siapkan ruang ICU VVIP RI 1 yang seharusnya hanya boleh untuk di tempati seorang presiden. Kami Tim Dokter sebenarnya dilema, jika  kami tak lakukan tindakan nanti kami dikira menelantarkan pasien. Tapi jika kami lakukan tindakan resikonya besar bahkan bisa beresiko ke arah kematian, karena ini high risk operation. Berdoa saja semoga semua lancar, yang pasti kami akan lakukan yang terbaik”, begitu penjelasan Dr. Bambang sebagai perwakilan dari tim dokter. Ya kami paham dokter, lakukan saja yang terbaik.
Akhirnya kepastian operasi kami dapatkan, info dari bagian PATOLOGI ANATOMI memberitahukan bahwa operasi positif dilakukan pada hari Selasa, 27 Oktober 2015 jadwal jam pertama jam 9 pagi. Dengan penanganan Tim Dokter khusus, dan ruang operasi dengan fasilitas terlengkapnya. Semua siap pasien masuk ke Ruang Instalansi Bedah Sentral pukul 08:30 WIB. Butuh bantuan lebih dari 10 orang hanya untuk sekedar memindahkan pasien dari bed ke bed operasi. Harus hati-hati dengan kondisi pasien yang lemah, memakai bantuan oksigen untuk pernapasan , 2 buah infus dan 1 kantong air seni. Kondisi kedua kaki yang sudah membengkak dan terluka juga membuat kami lebih berhati-hati lagi. Ya seperti itulah gambaran kondisi pasien. Yang bahkan hanya membantu merubah posisi miring dari kiri ke kanan atau sebaliknya ,atau sekedar membantunya duduk setelah lelah berbaring butuh bantuan 4 orang.

Operasi Bu Misiyem kali ini mengingatkan kami pada operasi Bu Kadiyem tahun lalu. Dengan kasus yang sama hanya saja Bu Kadiyem mengidap penyakit itu selama 9 tahun. Waktu itu dengan berat tumor 16 kg dan asites operasi berjalan cukup menegangkan karena operasi cukup rumit, melibatkan lebih dari 4 dokter bedah specialis. Bahkan sempat terjadi pelengketan di usus dan tumor hampir saja tak terangkat semuanya. Tim dokter juga sempat keluar masuk ruangan operasi sekedar membertahu kami tentang naik turunnya kondisi pasien. Alhamdulillah operasi dapat diselesaikan dengan baik. Untuk itulah untuk operasi Bu Misiyem kali ini kami harus siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Kami sudah membayangkan operasi bakal berjalan lebih lama dan lebih rumit.  

Sungguh diluar dugaan kami, operasi berlangsung tanpa kendala berarti. Dokter hanya keluar ruang operasi satu kali itupun hanya untuk meminta kami mengambil darah di bank darah sebanyak 5 kantong. Operasi berlangsung kurang lebih selama 3 jam dan hasilnya bener-benar membuat kami tercengang. Tumor seberat 45 kg berhasil diangkat dan unruk mengangkat tumor memerlukan tenaga 4 orang. Hebatnya lagi tak ada pelengketan di organ vital. Kelegaan yang terkira waktu itu yang kami rasakan. Kinerja Tim dokter benar-benar luar biasa. Dan satu jam kemudian pasien dipindah ke ruang ICU. Harapan kami Bu Misiyem bisa sembuh seperti dua pasien kami sebelumnya, Bu Wakinem dan Bu Kadiyem yang menderita penyakit yang sama.

Ternyata kelegaan kami tak berlangsung lama. Pasca operasi kondisi pasien mengalami naik turun. 4 jam pasca operasi Tuhan punya kehendak lain. Pasien meninggal dunia. Dan inilah akhir dari perjuangan Bu Misiyem melawan penyakitnya. Kami terdiam, tertunduk lesu mendengar berita duka ini. Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik agar pasien mendapat pelayanan dan fasilitas terbaik pula, beliau mendapatkan itu. Tapi Tuhan memang lebih menyayangi umatnya. Karena seperti penjelasan dokter, kalaupun pasien bisa melewati masa kritisnya dan terangkat tumornya, pasien masih akan menderita komplikasi. Diperkirakan pasien mengalami masalah di beberapa organ vital, seperti kerusakan ginjal, paru-paru, saluran air seni. Kini Tuhan sudah mengangkat semua sakit yang sudah 10 tahun lebih diderita Bu Misiyem.

Begitu  mendengar kabar duka itu kami yang baru saja sampai setelah mengantar pasien lain pulang pasca kemoterapi langsung meluncur kembali ke RSD. Moewardi Solo untuk mengurus jenazah Bu Misiyem. Menjelang magrib dengan diselimuti perasaan duka yang mendalam kami antar jenazah beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir. Malam itu juga dengan sederhana beliau langsung dimakamkan. Tak ada taburan bunga mawar, hanya ada taburan bunga bougenvile sebagai penggantinya.

Kini Bu Misiyem sudah terbaring tenang, semoga khusnul khotimah, diterima semua amal perbuatannya selama ini,dan semoga sakit yang dideritanya selama ini bisa sebaga penghapus dosa-dosanya. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak terkait yang selama ini sudah membantu Bu Misiyem selama menjalani perawatan di RS. Banyak sekali yang sudah membantu hingga kami tak bisa menyebut satu persatu. Selamat jalan Ibu Misiyem, tenanglah disana, tersenyumlah sekarang karena sudah terbebas dari rasa sakitmu. Bahagialah disana dan semoga mendapat balasan surga dari Tuhan atas ketabahan, keikhlasan dan kesabaranmu selama sakit ini. Kami disini akan mendoakanmu. Sungguh engkau adalah seorang ibu yang kuat dan tangguh. Kami akan tetap mengenangmu.


Salam Tembus Langit....


Selasa, 20 Oktober 2015

TUMOR PERUT IBU MISIYEM

11 TAHUN MENGANDUNG  TUMOR


Ibu Misiyem (49 tahun) adalah seorang dhuafa yang saat ini terbaring lemah karena penyakit tumor di perutnya yang sudah beliu derita selama kurang lebih 11 tahun. Saat ini kondisinya sangatlah memprihatinkan. Dengan perut yang membesar, kaki bengkak, serta tubuh yang kurus kering disertai sesak nafas yang diderita akibat tekanan dari pembesaran perut. Jangankan untuk berjalan, untuk sekedar duduk berlama-lamapun beliau sudah tak kuat. Ibu Misiyem adalah warga dari Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, yang letak daerahnya berada di ujung tenggara berbatasan dengan Kabupaten Pacitan. Tepatnya di Dusun Kikis RT 02/ RW 10, Desa Gedawung. Bersama suaminya Pak Kisut beliau tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding bambu, beralas tanah. Keseharian Bu Misiyem hanya seorang ibu rumah tangga dan suaminya sebagai petani dengan pendapatan yang tak menentu dan pasti jauh dari kekurangan.

Kondisi keterbatasan ekonomi ditambah masih harus menghidupi keempat anaknya membuat Bu Misiyem tak mampu mengobati penyakitnya. Bu Misiyem mulai menderita penyakit ini setelah kelahiran anak terakhirnya sekitar tahun 2005. Saat itu beliau sempat berobat ke RSUD Wonogiri dan di minta menjalani operasi. Tapi lagi-lagi karena ketiadaan biaya beliau mengurungkan niatnya untuk menjalani operasi. Itu artinya dari tahun 2005 hingga sekarang beliau menahan sakitnya. Jangankan untuk biaya berobat, untuk mencukupi kesehariannya saja mereka sudah kesulitan.

Sekitar dua tahun yang lalu ada seorang warga yang mencoba meminta bantuan pada Sedekah Rombongan. Tim pun sudah siap menghandle, tapi masalah lain muncul. Bu Misiyem menolak menjalani pengobatan dikarenakan faktor traumatik. Beliau takut bernasib sama seperti salah seorang tetangganya yang meninggal dunia pasca operasi. Anak- anak yang masih kecil adalah faktor penyebab lainnya. Tim Sedekah Rombongan pun tak bisa memaksa dan akhirnya hanya memberi bantuan tunai. Setahun yang lalu giliran pihak kecamatan melalui Ibu Camat kembali berusa membujuk agar mau di obatkan. Kali inipun gagal lagi, Bu Misiyem tetap tak mau menjalani pengobatan. Bertahannya Bu Misiyem untuk menolak berobat tak urung justru memperburuk kondisinya. Pengobatan alternatif yang ditempuhpun tak sedikitpun membawa perubahan bahkan memperparah sakitnya.

Akhirnya dalam ketidakberdayaannya Bu Misiyem akhirnya bersedia menjalani pengobatan disaat kondisinya sudah mengkhawatirkan. Tubuh kurusnya tak mampu menopang beban di perutnya. Tanpa membuang waktu Tim Sedekah Rombongan yang saat itu juga di bantu salah seorang pengusaha batik dari Sidoharjo segera membawa pasien ke Rumah Sakit. Awalnya pasien dibawa ke Rumah Sakit Amal Sehat Slogohimo. Tapi ternyata Rumah Sakit Amal Sehat tidak mampu menangani dan merujuk pasien ke RSD. Moewardi Solo. Hari itu juga Minggu tanggal 18 Oktober 2015 pasien di bawa ke RSD. Moewardi lewat jalur IGD. Pasien segera mendapat penanganan dan saat ini menjalani rawat inap untu mendapatkan perawatan.

Sekarang Bu Misiyem dalam penanganan tim dokter di RSD.Moewardi Solo. Ini bukanlah kasus yang mudah mengingat besarnya tumor di perut Bu Misiyem. Sementara Tim Sedekah Rombongan di bantu perangkat setempat terus mengupayakan agar Bu Misiyem mendapatkan jaminan kesehatan agar segera bisa di lakukan tindakan. Sahabat mohon doanya untuk kelancaran penanganan Bu Misiyem, dimudahkan dalam mengurus segala sesuatunya.

Sungguh ujian yang tak ringan untuk Ibu Misiyem dengan menahan sakit selama sepuluh tahun lebih. Bisa kita bayangkan seperti apa penderitaan Ibu Misiyem selama ini. Saat ini dalam kepasrahanya beliau mengharap uluran tangan kita untuk membantunya sembuh. Ingin sehat seperti sebelum sakit itu datang. Ingin perutnya kembali rata dan bisa beraktifitas kembali secara normal. Ingin bisa merawat dan membesarkan anak-anaknya. Ingin bisa menghirup udara tanpa sesak didadanya dan bergerak dengan leluasa.

Sahabatku mari bergerak bersama tanpa harus saling menyalahkan atas kejadian yang menimpa Ibu Misiyem. Justru sekarang kita akan merasa salah saat tahu peristiwa ini tapi kita diam saja. Buka mata hati ,tumbuhkan kepekaan dan kepedulian kita. Bantu beliau mendapat kesembuhan. Sisihkan rejeki untuk membantu biaya pengobatan beliau. Banggalah kalian yang sudah dipilih Tuhan menjadi perantara menyampaikan  pertolongannya. Sedikit uluranmu bernilai besar untuk beliau. Bergerak bersama, sembuhkan, membaikkan. Isyaallah tembus langit dan biarkan “Tangan Tuhan” ikut bekerja.Tetap Semangiiiiit...Semangat Menembus Langiiiit...!!!!


Donasi Buat Ibu Misiyem
BCA: 84655-23456
Mandiri: 137-00111-0011-8
a/n: Sedekah Rombongan
Kurir: 085329907666 (Nonis MS)